SAMPANG, RadarBangkalan.id - Pengadilan Negeri (PN) Sampang kembali menggelar sidang perkara pencemaran nama baik yang melibatkan terdakwa Fauzan Adima pada tanggal 5 Desember kemarin.
Namun, pembacaan tuntutan ditunda karena jaksa penuntut umum (JPU) tidak siap.
JPU Suharto memberikan pernyataan di hadapan majelis hakim mengenai ketidaksiapannya dalam agenda tuntutan tersebut.
Sehingga, Hakim Ketua Ratna Mutia Rinanti memutuskan untuk menunda persidangan.
"Kami belum siap memberikan tuntutan," ungkap Suharto.
Dalam wawancara dengan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Suharto mengungkapkan bahwa dirinya masih memerlukan arahan dari pimpinan terkait kasus yang melibatkan Wakil Ketua DPRD Sampang, Fauzan Adima.
Alasan ketidaksiapan jaksa atas tuntutan tidak dijelaskan oleh Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang, Achmad Wahyudi.
Wahyudi hanya menyatakan bahwa sidang untuk perkara 189/Pid.B/2023/PN Spg ditunda hingga dua pekan ke depan.
"Saya hanya mendapat info bahwa sidang ditunda dua minggu. Ranah persidangan ada di PN Sampang, mohon untuk konfirmasi terkait alasan dari penundaan tersebut," ujar Achmad Wahyudi kepada JPRM.
Hakim Ratna Mutia Rinanti menunda sidang karena JPU tidak siap untuk tuntutan, dan seharusnya sidang dilanjutkan pekan depan.
Namun, Ratna Mutia Rinanti memiliki tugas lain sehingga sidang ditunda hingga dua pekan ke depan.
Fauzan Adima keberatan jika sidang dilanjutkan pada 19 Desember 2023, dengan alasan memiliki agenda terkait partai politiknya.
Namun, hakim menolak alasan tersebut dengan tegas. "Saudara ini sebagai terdakwa dan harus hadir dalam persidangan tersebut," kata Ratna Mutia Rinanti.
Fauzan Adima tidak membantah permintaan majelis hakim untuk hadir di sidang tuntutan yang dijadwalkan dua pekan mendatang.
Usai penundaan sidang, simpatisan dari kedua pihak perlahan meninggalkan PN Sampang.
Abd. Wadud alias Madud, yang menunggu di luar ruangan, tidak memberikan keterangan.
Fauzan Adima meminta agar tidak ada intimidasi sebelum putusan diumumkan oleh majelis hakim.
Dia menegaskan bahwa tidak akan melecehkan perempuan, didampingi oleh istri tercintanya, dan menyatakan bahwa semua pendukungnya adalah perempuan.
"Kalau saya melecehkan perempuan, saya tidak akan didampingi oleh istri saya tercinta ini, pasti dia minta cerai (jika saya terbukti melecehkan).
Pendukung-pendukung saya semua perempuan, tidak mungkin saya seperti itu," ucapnya. ***