RadarBangkalan.id - Pelaku carok, Hasan Tanjung, merinci dengan lebih rinci kronologi peristiwa yang terjadi sebelum aksi kejam di Bangkalan, Madura, yang mengakibatkan empat korban tewas.
Melalui wawancara eksklusif, Hasan Tanjung menjelaskan bahwa kejadian tersebut bermula saat dirinya sedang menunggu beberapa teman yang mengajak untuk melaksanakan tahlilan.
Pada saat menunggu, Hasan Tanjung tiba-tiba melihat sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi dan lampu sorot yang menyilaukan.
Tanpa menyadari bahwa pengendara motor tersebut adalah Mat Tanjar dan Mat Terdam, Hasan Tanjung kemudian memutuskan untuk menyelidiki kejadian tersebut.
"Saya menunggu teman-teman saya yang mengajak tahlilan, waktu itu saya yang datang duluan. Saya melihat ada motor melaju kencang dari dalam, saya tanpa sengaja melihat siapa yang mengendarai motor dengan kecepatan seperti itu, sampai lampunya menyilaukan mata saya," jelas Hasan.
Karena silau, Hasan Tanjung bahkan harus melototkan matanya, yang kemudian diduga membuat Mat Tanjar salah paham.
Hasan Tanjung kemudian mencoba berkomunikasi dengan keduanya, bertanya kemana mereka akan pergi.
"Dia (Mat Tanjar) merespons dengan mengatakan, 'Mau apa?', padahal saya mengenal mereka. Saya rasa wajar jika saya bertanya mau ke mana," ungkap Hasan.
Namun, alih-alih mendapat respons yang baik, Hasan Tanjung justru mendapatkan tamparan dari Mat Tanjar.
"Dia berkata, 'Jangan tanya-tanya, jangan ikut campur urusan orang.' Saya kan kenal mereka, dan saya pikir wajar jika saya ingin mengetahui tujuan mereka," lanjutnya.
Hasan Tanjung merasa sakit hati dengan respons yang tidak sesuai ekspektasinya dan akhirnya duel carok Mat Tanjar dan Hasan Tanjung tidak terelakan.
Kondisi semakin memanas ketika Hasan Tanjung memutuskan untuk mengambil celurit di rumahnya.
Sayangnya, aksi duel carok tersebut berkembang menjadi perkelahian massal, melibatkan sejumlah orang.
Adik Hasan, Wardi, juga menjadi korban pengeroyokan oleh beberapa rekannya dari pihak Mat Tanjar.
Diduga ada 10 orang yang terlibat dalam peristiwa ini, dengan hasil akhir mengorbankan empat nyawa, yaitu Mat Tanjar, Mat Terdam, Hafid, dan Najehri.
Sementara Hasan dan Wardi dianggap sebagai tersangka dan saat ini ditahan. Peristiwa ini mencuatkan kontroversi mengenai perbedaan persepsi dan tindakan yang mungkin dapat dihindari jika komunikasi yang lebih baik dilakukan di awal. ***