News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Suara Budayawan Madura: Carok, Tradisi yang Merosot dan Hilang Makna di Bangkalan

Raditya Mubdi • Kamis, 25 Januari 2024 | 13:50 WIB
Tanggapan Budayawan Madura Soal Tragedi Carok di Bangkalan
Tanggapan Budayawan Madura Soal Tragedi Carok di Bangkalan

RadarBangkalan.id - Tragedi Carok di Kecamatan Tanjung Bumi pada 12 Januari 2024, yang menelan empat korban, mengundang sorotan tajam terhadap tradisi kuno tersebut.

Namun, suara mengejutkan datang dari seorang Budayawan Madura, Hidrocin Sabarudin, yang menaruh keraguan terhadap kelangsungan Carok sebagai tradisi yang masih bernilai.

Dalam wawancara eksklusif dengan tvOneNews pada 23 Januari 2024, Sabarudin mengungkapkan pandangannya bahwa Carok sebetulnya sudah kehilangan substansinya dan kini lebih mirip pengeroyokan massal daripada tradisi yang berakar.

"Carok ini sudah tidak ada, sudah hilang. Nama Carok itu bukan Carok lagi, sekarang di mana-mana terjadi pengeroyokan," ujarnya dengan tegas.

Budayawan Madura ini meyakini bahwa Carok hanya layak disebut sebagai tradisi jika mampu memberikan dampak positif dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, istilah Carok semakin tergerus menjadi sinonim dari aksi pengeroyokan massal yang terjadi di Madura.

Sabarudin menjelaskan bahwa Carok pada awalnya merupakan bentuk penyelesaian akhir untuk memulihkan harga diri seseorang yang merasa terhina di depan umum.

Sejarah mencatat bahwa Carok menjadi pilihan terakhir ketika permintaan maaf tak membuahkan hasil dan mediasi oleh pihak ketiga tidak memecahkan masalah setelah tiga percobaan.

Dalam proses Carok, terdapat aturan-aturan tertentu dan persetujuan antara kedua belah pihak keluarga bahwa duel Carok akan dilaksanakan untuk mengembalikan harga diri yang tercabut.

"Tidak ada balas dendam, hanya masalah harga diri," ungkap Sabarudin.

Namun, Budayawan Madura ini menyoroti perubahan signifikan dalam pelaksanaan Carok.

Baca Juga: Nekat! Tak Menyangka Adiknya Tewaskan 4 Pendekar, Kakak Hasan Tanjung Ungkap Sifatnya: Dia Bukan...

Pada masa lalu, pelaku Carok yang menang dihormati dan bahkan memberikan senjata kepada keluarga yang kalah sambil meminta maaf.

Namun, situasinya kini berbeda. Kemenangan dalam pertarungan semacam itu tak lagi dihargai, terutama dengan adanya hukum negara yang dapat menilainya sebagai tindak pidana.

Perubahan ini, menurut Sabarudin, tercermin dari pengaruh pendidikan dan agama yang semakin memasyarakat.

Ia berharap agar masyarakat Madura dapat meninggalkan Carok sebagai satu-satunya cara menyelesaikan konflik.

"Ada jalan-jalan media lain yang bisa menjadi solusi dalam menghadapi permasalahan," tandasnya.

Dengan begitu, narasi tentang Carok di Madura tidak hanya mencerminkan warisan tradisional, melainkan juga menggambarkan perubahan sosial dan budaya yang terus berkembang seiring berjalannya waktu.***

Editor : Raditya Mubdi
#madura #carok #bangkalan