RadarBangkalan.id - Tragedi carok maut di Bangkalan, Madura, pada 12 Januari 2024, menjadi sorotan ketika Wardi, adik Hasan Tanjung, turut serta dalam aksi yang menelan empat nyawa tersebut.
Wardi, seorang sosok yang memiliki peran besar dalam melancarkan carok maut tersebut, ikut membantu kakaknya, Hasan Tanjung, dalam pertempuran sengit di tengah masyarakat Madura.
Dengan keberanian yang luar biasa, Hasan Tanjung dan Wardi berhadapan dengan sekitar sepuluh orang di tempat kejadian.
Meskipun hanya lima orang yang berani melawan mereka, peristiwa tersebut berujung tragis dengan tewasnya Mat Tanjar yang awalnya menantang carok.
Momen kritis terjadi ketika Mat Tanjar menantang Hasan Tanjung, memicu emosi kakak beradik ini.
Wardi, dengan sigap, berhasil menahan pasukan Mat Tanjar yang berusaha menyerang Hasan.
Sementara Hasan fokus menyerang Mat Tanjar sebagai balasan atas tindakan provokatif yang dilakukan.
Menariknya, melalui video dari Serial Kriminal Official di YouTube, terungkap bahwa Wardi memiliki peran kunci dalam melancarkan carok maut tersebut.
Wardi tidak hanya menahan pasukan Mat Tanjar, tetapi juga mampu menahan tiga orang sekaligus, yaitu Mat Terdam, Najehri, dan Hafid, memungkinkan Hasan Tanjung untuk fokus menyerang Mat Tanjar.
Selama perkelahian berlangsung, Wardi terlibat dalam pertempuran sengit.
Ia berhasil menahan tiga lawan sekaligus dan menghalangi upaya keras Najehri dan Hafid yang mencoba menyerang Hasan dari belakang.
Menurut narator dalam video, Wardi bahkan menebas tiga lawan sekaligus dengan menggunakan celuritnya.
Keberanian dan keterampilan Wardi dalam mengatasi situasi yang rumit memberikan dampak signifikan dalam menyelesaikan pertempuran tersebut.
Sehingga, pada akhirnya, Mat Terdam, Najehri, dan Hafid meregang nyawa di tangan Wardi, sementara Mat Tanjar berhasil ditumbangkan oleh Hasan.
Keberanian kakak beradik ini dalam menghadapi tantangan carok massal di Bangkalan menjadi peristiwa yang mendalam dan mengejutkan, mengingatkan kita pada keberanian dan kekejaman carok yang paling mengerikan dalam sejarah Madura. ***
Editor : Azril Arham