SAMPANG, Radarbangkalan.id - Seorang bayi perempuan di Dusun Mandala Barat, Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Sampang, Jawa Timur, lahir dengan kondisi langka.
Bayi bernama Amira Biliatun Nisak ini memiliki 24 jari, dengan 12 jari di tangan dan 12 jari di kaki.
Kelahiran Amira Biliatun Nisak, anak ketiga pasangan Fausi dan Subaidah, sontak menghebohkan warga sekitar dan media sosial.
Banyak yang bertanya-tanya tentang penyebab kelainan kongenital ini.
Dokter spesialis anak RSUD dr Mohammad Zyn Sampang, dr Sri Astuti Eviningrum, belum mengetahui secara pasti penyebab kelainan Amira.
Baca Juga: Viral Bayi Lahir 24 Jari di Sampang, Dokter Spesialis Anak Uangkap Istilah Ini
Ia menjelaskan, untuk mengetahui penyebabnya, perlu ditelusuri faktor risiko dari ibu selama kehamilan.
"Apakah ada penyakit atau faktor lain. Kalau kongenital itu genetik atau murni proses pembentukan saat dalam kandungan," terang Astuti kepada Radarbangkalan.id, Jumat, 2 Februari 2024.
Astuti juga menepis anggapan Subaidah, ibu Amira, bahwa kelainan ini ada kaitannya dengan melihat kepiting saat hamil.
Baca Juga: Lewat Video Tragedi Carok Massal di Bangkalan, Ini Alur Pertarungan Hasan Tanjung vs Mat Tanjar
"Iya, tidak ada hubungan melihat kepiting atau tidak," tegasnya.
Terkait dengan jari-jari Amira Biliatun Nisak yang lebih, Astuti mengatakan bahwa hal itu hanya akan mengganggu estetika.
Ia pun menghormati keputusan keluarga jika tidak ingin menghilangkan jari-jari tersebut.
Proses Persalinan dan Harapan Orang Tua
Amira Biliatun Nisak lahir pada Selasa, 23 Januari 2024, di tempat praktik bidan desa. Bidan yang membantu persalinan, Siti Aminah, mengatakan bahwa proses persalinan Amira berlangsung normal.
"Hanya saja, saat saya cek, jari tangan dan kaki bayinya tidak normal," kata Aminah.
Fausi, ayah Amira, tidak menganggap kelainan putrinya sebagai cacat fisik. Ia justru melihatnya sebagai anugerah dari Tuhan.
Baca Juga: Peran Penting Wardi Saat Carok Massal di Bangkalan, Lebih Ganas dari Hasan Tanjung
"Anak saya tidak berhenti menangis setelah dilahirkan. Mungkin dia ingin ngasi tahu kalau jarinya lain. Anehnya, setelah itu dia tidak menangis lagi," ujar Fausi.
Fausi dan Subaidah berharap Amira dapat tumbuh dan berkembang dengan normal.
Mereka juga berharap agar putrinya tidak di-bully oleh orang lain karena kelainan fisiknya.
Kasus Polidaktili
Kelainan yang dialami Amira Biliatun Nisak disebut dengan polidaktili, yaitu kondisi di mana seseorang memiliki jari tangan atau kaki lebih banyak dari normal.
Polidaktili dapat terjadi pada satu atau kedua tangan dan kaki.
Menurut Mayo Clinic, polidaktili merupakan kelainan bawaan yang cukup umum.
Penyebabnya bisa karena faktor genetik, lingkungan, atau kombinasi keduanya.
Baca Juga: Gelombang Kontroversi: Isu Kesehatan Prabowo Memanas di Kampanye Demokrat Malang
Pada kebanyakan kasus, polidaktili dapat diobati dengan operasi untuk mengangkat jari-jari tambahan.
Namun, keputusan untuk operasi tergantung pada beberapa faktor, seperti usia anak, tingkat keparahan kelainan, dan kesehatan anak secara keseluruhan.
Kisah Amira Biliatun Nisak menjadi contoh bahwa setiap anak adalah istimewa, regardless of their physical appearance.
Orang tua dan masyarakat harus menerima dan mendukung anak-anak dengan kelainan fisik agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan penuh kasih sayang. ***
Editor : Ajiv Ibrohim