RadarBangkalan.id - Terkuaklah sebuah sisi gelap dari tragedi carok yang melibatkan Hasan Tanjung dan Mawardi di Bangkalan.
Sosok yang mengungkap tragedi carok tersebut tidak lain adalah seorang penjual sate yang bermukim di sekitar lokasi kejadian.
Menurut pengungkapan dari salah satu warga Bangkalan ini, dia memberikan keterangan penting terkait konflik antara Hasan Tanjung dan Mawardi dengan pasukan Mat Tanjar, yang merupakan dua kubu dalam perselisihan carok.
Informasi ini pertama kali mencuat melalui kanal Youtube Bercerita Horor pada tanggal 20 Januari 2024, di mana seorang perwakilan dari masyarakat setempat menyebutkan bahwa lawan terakhir Hasan Tanjung memiliki potensi untuk menjadi saksi kunci dalam peristiwa carok tersebut.
Sebagai gambaran, pasukan Mat Tanjar yang berhasil selamat pada waktu itu diinstruksikan oleh Hasan Tanjung untuk meninggalkan lokasi kejadian carok.
Pada tahap ini, Hasan Tanjung menyadari bahwa dirinya dan adiknya, Mawardi, telah terlibat dalam pembunuhan sejumlah orang.
"Orang yang terakhir melawan Hasan Tanjung seharusnya menjadi saksi kunci," ungkap salah seorang warga dalam wawancara tersebut.
Terungkaplah bahwa alasan di balik perintah Hasan Tanjung untuk membiarkan lawan terakhirnya pergi adalah karena tidak ada masalah yang spesifik antara dirinya dan murid-murid almarhum Mat Tanjar.
Dengan demikian, fokus Hasan Tanjung dan Mawardi hanyalah pada Mat Tanjar dan Mat Terdam.
Korban lain yang tewas, yaitu Najehri dan Hafid, kemungkinan besar terkena sabetan celurit dari kakak beradik tersebut dalam usaha membela diri.
Hasan Tanjung juga memberikan keterangan bahwa pasukan Mat Tanjar juga beberapa kali melakukan serangan terhadap mereka.
Meskipun lawan terakhir Hasan Tanjung dan Mawardi memiliki potensi menjadi saksi kunci, hingga saat ini mereka belum muncul di depan publik.
Ketidakhadiran mereka ini merupakan hal yang disayangkan bagi warga Bumi Anyar yang mengharapkan agar keenam anggota pasukan Mat Tanjar dalam peristiwa carok tersebut juga diadili seperti Hasan Tanjung dan Mawardi. ***
Editor : Azril Arham