News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Kasus TBC Tembus 592, Dinkes Bangkalan Larang Kontak Langsung dengan Pasien

Abdul Basri • Minggu, 2 Juni 2024 | 03:44 WIB

 

MENJELASKAN: Kepala Bidang Kesmas Aris Budhiartho saat ditemui di Dinkes Bangkalan, Jumat (31/5). (AHZAMZAM ERENDY/JPRM)
MENJELASKAN: Kepala Bidang Kesmas Aris Budhiartho saat ditemui di Dinkes Bangkalan, Jumat (31/5). (AHZAMZAM ERENDY/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Bangkalan cukup tinggi.

Dinas kesehatan (dinkes) mencatat, pasien TBC tahun ini tembus 592 orang.

Pasien berpotensi sembuh jika rutin minum obat minimal enam bulan.

Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Bangkalan Aris Budhiartho mengatakan, pihaknya mendata pasien TBC mencapai 592 orang.

Pasien tersebar di 18 kecamatan di Kabupaten Bangkalan. Kasus paling banyak ditemukan di Kecamatan Tanah Merah.

Dia mengutarakan, angka kasus TBC 2023 sebanyak 1.733 orang. Kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Galis.

Aris meminta masyarakat lebih waspada terhadap penularan tersebut.

Sebab, penyakit TBC mudah menular, baik ke anak kecil maupun orang dewasa.

”Penyakit TBC gampang menular ke setiap orang. Bisa menular dari percikan droplet,” tuturnya kemarin (31/5).

Aris menjelaskan, ada dua jenis penyakit TBC yang biasa menyerang pasien.

Yakni, TBC multi-drug resistant (MDR) dan TBC biasa. Pengobatan TBC tersebut tidak sama.

Pengobatan TBC MDR membutuhkan waktu sekitar dua tahun agar bisa sembuh.

Sedangkan pengobatan TBC biasa lebih singkat, yakni enam bulan.

”Semua itu bergantung pasien. Kalau rutin setiap hari minum obat, bisa bebas dari penyakit TBC,” terangnya.

Dia mengungkapkan, banyak gejala yang timbul dari penyakit TBC. Biasanya batuk dalam waktu lama, nyeri dada, berkeringat pada malam hari, kelelahan, serta gejala lainnya.

Aris menyarankan, jika ada gejala tersebut, segera berobat ke rumah sakit.

Aris memaparkan, Dinkes Bangkalan melakukan kegiatan investigasi kontak (IK) untuk menekan perkembangan kasus TBC.

Caranya, melarang melakukan kontak langsung dengan pasien TBC.

Selain itu, melakukan sosialisasi ke pondok pesantren yang dilanjutkan dengan screening TBC.

”Penyakit TBC itu tidak langsung menular. Biasanya ada gejala sakit yang dirasakan sebelum terserang TBC,” paparnya. (c4/bil)

 

Editor : Abdul Basri
#pasien #Dinkes Bangkalan #tbc