RadarBangkalan.id - Tingkat gizi buruk di kalangan anak-anak di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dilaporkan cukup tinggi dan memprihatinkan.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan, sebanyak 473 anak di daerah yang juga dikenal sebagai Kota Salak ini mengalami gizi buruk.
Data tersebut diperoleh melalui sistem elektronik-pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM).
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat (KGM) Dinkes Bangkalan, Moh. Farid, menyatakan bahwa peningkatan angka gizi buruk ini sangat mengkhawatirkan dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.
“Jumlah ini berdasarkan data e-PPGBM,” ucap Moh. Farid pada Rabu (5/6).
Ia menekankan bahwa meskipun jumlahnya tinggi, hal ini juga menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat Bangkalan untuk memeriksakan kesehatan anak-anak mereka di posyandu.
Peningkatan angka gizi buruk disinyalir akibat semakin banyaknya orang tua yang datang ke posyandu untuk memeriksakan anak-anak mereka secara rutin.
Dengan begitu, kasus gizi buruk terdeteksi lebih banyak dan lebih cepat.
"Semakin banyak masyarakat datang ke posyandu untuk melakukan pemeriksaan anak-anaknya, itu semakin baik untuk pemantauan, penanganan, dan pencegahan,” tuturnya.
Untuk menangani masalah gizi buruk ini, Dinkes Bangkalan telah menyusun berbagai strategi.
Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah pemeriksaan berjenjang, dimulai dari tingkat posyandu.
Jika ditemukan kasus gizi buruk yang parah, anak tersebut akan dirujuk ke puskesmas yang memiliki tata laksana khusus untuk gizi buruk.
Di puskesmas, anak akan diperiksa lebih lanjut. Apabila membutuhkan penanganan yang lebih intensif, anak tersebut akan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Selain penanganan, upaya pencegahan juga menjadi fokus utama Dinkes Bangkalan. Edukasi mengenai pentingnya asupan gizi seimbang dan bergizi diberikan kepada masyarakat melalui berbagai kampanye dan penyuluhan.
Program imunisasi, pemberian vitamin, serta pengawasan pertumbuhan dan perkembangan anak juga diperkuat untuk menekan angka gizi buruk.
“Kemudian, program imunisasi, pemberian vitamin, serta pengawasan pertumbuhan dan perkembangan anak juga perlu ditingkatkan. Dengan begitu, angka gizi buruk ini bisa ditekan,” pungkas Farid.
Kesadaran masyarakat Bangkalan mengenai pentingnya kesehatan anak mulai meningkat. Hal ini terlihat dari meningkatnya kunjungan ke posyandu.
Posyandu tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk memeriksa kesehatan anak, tetapi juga sebagai pusat edukasi bagi orang tua mengenai pentingnya gizi seimbang.
Dengan semakin banyaknya orang tua yang rutin membawa anak-anak mereka ke posyandu, deteksi dini terhadap masalah gizi buruk dapat dilakukan, sehingga penanganannya bisa lebih cepat dan tepat.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam menurunkan angka gizi buruk di Bangkalan.
Dengan kerjasama yang baik antara pemerintah, petugas kesehatan, dan masyarakat, masalah gizi buruk pada anak dapat ditangani dan dicegah dengan lebih efektif.
Pemerintah daerah, melalui Dinkes Bangkalan, terus berupaya untuk meningkatkan layanan kesehatan dan edukasi kepada masyarakat demi masa depan anak-anak yang lebih sehat dan cerdas. ***
Editor : Azril Arham