RadarBangkalan.id - Karapan Sapi Piala Presiden 2024 yang digelar di Stadion R.P. Moch. Noer, Minggu (1/9), berlangsung dengan penuh semangat.
Meski cuaca terik, para penonton tetap antusias menyaksikan sapi-sapi jagoan mereka berlomba mencapai garis finis di stadion yang terletak di Kelurahan Bancaran, Kecamatan/Kabupaten Bangkalan.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh Jawa Pos Radar Madura (JPRM), kompetisi kali ini diikuti oleh 24 pasang sapi dari empat kabupaten di Madura.
Masing-masing kabupaten mengirimkan enam pasang sapi terbaiknya untuk berlaga mulai pukul 07.30 hingga selesai sekitar pukul 14.20.
Di akhir kompetisi, enam pasang sapi dinobatkan sebagai pemenang. Untuk golongan atas, juara pertama diraih oleh sapi Sernaser milik H. Rozi dari Sampang, yang berhasil menggeser juara Piala Presiden 2023, Gagak Rimang milik H. Tohir, ke posisi kedua. Posisi ketiga ditempati oleh sapi bernama Bandit Elit dari Bangkalan.
Untuk golongan bawah, juara pertama diraih oleh sapi Melindos Junior dari Sumenep.
Sementara itu, pasangan sapi Setel Balap asal Sampang meraih posisi kedua, dan sapi Jet Metic milik H. Hakiki dari Sampang berada di posisi ketiga.
Para pemenang mendapatkan hadiah yang menggiurkan. Juara pertama dari golongan atas dan bawah masing-masing mendapatkan satu unit mobil, sementara pemenang kedua dan ketiga mendapatkan satu unit sepeda motor.
Pj Bupati Bangkalan, Arief M. Edie, menegaskan bahwa karapan sapi adalah salah satu budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan.
"Apalagi, event yang sudah menjadi ikon Madura ini dimanfaatkan sebagai ajang untuk mempererat silaturahmi para tokoh Madura," terangnya.
Ia juga menyatakan bahwa Stadion Karapan Sapi di Bangkalan masih sangat layak menjadi lokasi penyelenggaraan event besar seperti Piala Presiden.
Harapannya, masyarakat Madura, terutama Bangkalan, akan terus merawat dan menjaga fasilitas ini.
“Jika karapan sapi Piala Presiden terus digelar di Bangkalan, hal itu akan berdampak positif terhadap perputaran ekonomi,” tambahnya.
Ketua DPRD Bangkalan, Dedy Yusuf, juga memberikan pandangannya bahwa karapan sapi adalah simbol identitas masyarakat Jawa Timur, khususnya Madura.
Ia berharap, ke depannya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bisa memberikan dukungan anggaran lebih besar agar karapan sapi semakin dikenal di dunia internasional.
Dengan semangat yang tinggi dan dukungan dari berbagai pihak, karapan sapi tidak hanya menjadi bagian dari budaya Madura, tetapi juga kebanggaan Indonesia. Mari kita lestarikan bersama! ***
Editor : Azril Arham