RadarBangkalan.id – Salah satu bangunan bersejarah yang masih berdiri megah di jantung Kota Bangkalan adalah tandon air atau tower PUDAM yang berada di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kelurahan Pejagan, Kecamatan Kota Bangkalan.
Tower ini merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda dan dibangun pada tahun 1927 Masehi oleh Ir. M.C.M Kaulbach.
Tower air yang kini berstatus cagar budaya tersebut telah berumur hampir satu abad dan masih terjaga keasliannya.
Bangunan ini dikenal luas oleh masyarakat setempat sebagai tower PUDAM (Perusahaan Umum Daerah Air Minum) dan menjadi salah satu ikon arsitektur tua di Kota Salak.
Baca Juga: Potensi PAD Besar, DPRD Bangkalan Desak Evaluasi Larangan Pungutan Retribusi Tambak Udang
Pada masa awal pembangunannya, tower air PUDAM Bangkalan berfungsi sebagai reservoir air bersih untuk kebutuhan masyarakat Kota Bangkalan.
Selain itu, bagian atas tower juga dilengkapi dengan sirine, yang digunakan sebagai penanda waktu selama bulan Ramadan, terutama untuk membangunkan sahur dan menginformasikan waktu berbuka puasa.
Namun, sejak tahun 1990, tower tersebut tidak lagi difungsikan untuk menyimpan air karena faktor usia bangunan.
Meski begitu, konstruksi bangunan masih terlihat sangat kokoh, bahkan tidak menunjukkan adanya keretakan berarti hingga kini.
Menurut Koordinator Teknis PUDAM Sumber Sejahtera Bangkalan, Imam Syafii, tower ini dibangun bersamaan dengan sistem penampungan air di Sumber Pocong, Burneh.
Di area yang sama, juga terdapat bangunan lain yang kinidigunakan sebagai kantor PUDAM Bangkalan.
Baca Juga: Cekcok dengan Polisi di Suramadu, Bea Cukai Madura Masih Tunggu Instruksi Atasan
Yang menarik, name plate atau papan nama bangunan tersebut masih terjaga dan terukir rapi di atas batu asli, menjadi bukti kuat bahwa bangunan ini adalah hasil karya teknik sipil kolonial Belanda.
“Tower PDAM ini dibangun satu paket dengan instalasi penampungan air. Konon, dibangun bersamaan dengan tower air di tiga kabupaten lain di Madura,” jelas Imam.
Meski usianya sudah mencapai 98 tahun, bangunan tower air Bangkalan ini belum pernah mengalami renovasi besar.
Hanya dilakukan pengecatan ulang untuk menjaga tampilan luarnya tetap bersih. Keaslian bentuk, struktur, dan bahan bangunan masih dipertahankan sejak pertama kali dibangun.
“Sejak 1990, tower ini memang tidak lagi digunakan untuk menyimpan air. Tapi nilai sejarahnya tetap kami jaga,” pungkas Imam Syafii. ***
Editor : Agus Sulaiman