SUMENEP, RadarBangkalan.id – Suasana Kedai Untung Kopi di Jalan Imam Bonjol, Nomor 23, Pamolokan, Sumenep, terlihat berbeda pada Sabtu (31/5) malam.
Puluhan anak muda duduk di kursi yang berjejer di halaman rumah bercorak klasik itu. Mereka bukan sekadar ngopi atau bermalam Minggu. Namun, juga nobar alias nonton bareng. Acara tersebut diinisiasi oleh Koalisi Anak Muda Indonesia (KAMI).
Saat film diputar, sudut-sudut kafe menjadi gelap. Semua pasang mata hanya tertuju pada satu arah. Yaitu, proyektor berisi film menggugah hati. Yakni, Yuni (2021).
Semua itu bukan tanpa alasan. ”Ungu adalah lambang kreativitas dan imajinasi. Selain itu, melambangkan suasana hati yang kacau atau frustasi. Dalam film ini, ungu diibaratkan kehidupan Yuni yang penuh impian dan ambisi untuk mencapai kemandirian dan kebebasan.
Namun, cita-cita tinggallah cita-cita, bahkan hilang terampas nilai tradisi yang turun-temurun dan sulit ditentang.
Menurut Aura, film Yuni bukan lagi soal feminisme, melainkan lebih menekankan pada stereotipe, budaya, dan tradisi Indonesia yang seolah mendudukkan perempuan dan laki-laki dalam neraca yang timpang. Lalu, bagaimana kontrol sosial turut menyetir tubuh dan pilihan perempuan.
”Harapan saya, dengan adanya forum-forum kecil seperti ini dapat menjadi jalan yang nantinya membuka paradigma masyarakat soal kesetaraan gender dan tidak lagi menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan sekunder bagi perempuan,” ucapnya.
Suasana semakin hangat saat beberapa audiens turut berpartisipasi dengan menyuguhkan beberapa tanggapan dan pertanyaan.
Kemudian, acara ditutup dengan closing statement sekaligus refleksi oleh Zakiyatul W. Taulina dan dilanjutkan foto bersama serta penyerahan cendera mata oleh Ketua KAMI Izzun Islami Akbar kepada para pemateri. (*)
Editor : Ina Herdiyana