News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Antara Kandang dan Kampus, Abdullah, Dosen dan Juragan Sapi yang Tak Gentar Hadapi Pasang Surut

Mohammad Sugianto • Kamis, 5 Juni 2025 | 22:28 WIB
Abdillah seorang dosen yang sudah menyandang status doktor juga nyambi beternak dan berdagang sapi
Abdillah seorang dosen yang sudah menyandang status doktor juga nyambi beternak dan berdagang sapi

BANGKALAN – Bagi Abdullah, hidup bukan soal memilih antara otak atau otot. Pria kelahiran Bangkalan ini memilih menjalani keduanya sekaligus: menjadi dosen di perguruan tinggi, sekaligus juragan sapi yang kini sukses membesarkan peternakan miliknya, 69 Berkah.

Di tengah kesibukannya mengajar dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Bangkalan, Abdullah tetap setia mengurus bisnis sapi yang dirintisnya sejak beberapa tahun silam. Dari kandang sederhana, kini peternakannya tumbuh menjadi salah satu penyuplai utama hewan kurban di Jawa Timur.

“Saya percaya, ilmu dan usaha itu bisa saling menguatkan. Yang penting tekun dan jujur dalam menjalani,” ungkapnya saat ditemui di sela aktivitasnya di kandang, belum lama ini.

Menuturnta, Bisnis ternak bukan perkara gampang. Pasang surut harga, fluktuasi permintaan, hingga wabah penyakit ternak kerap jadi tantangan. Namun, bagi Abdullah, semua itu adalah bagian dari proses. “Pernah rugi, pernah gagal panen, tapi saya tidak pernah berpikir untuk mundur,” katanya.

Keteguhan itulah yang membuat Peternakan 69 Berkah tetap eksis hingga kini. Bahkan, jelang Idul Adha 2025 ini, Abdullah berhasil menjual 390 ekor sapi ke berbagai kota di Jawa Timur. Dari Surabaya hingga Malang, sapi-sapi gemukan dari Bangkalan ini tetap jadi incaran.

Sebagai dosen, Abdullah dikenal tegas namun dekat dengan mahasiswa. Ia kerap mengaitkan teori pendidikan dengan praktik kehidupan. “Saya sering bilang ke mahasiswa: jangan malu bekerja di sawah atau kandang. Justru di situlah kita belajar tentang realitas,” ucapnya.

Peran ganda sebagai pendidik dan peternak memberinya sudut pandang unik. Ia paham betul pentingnya pendidikan karakter—dan dunia ternak, menurutnya, adalah ruang belajar terbaik soal disiplin dan tanggung jawab.

Sebagai Ketua Dewan Pendidikan, Abdullah juga aktif menyuarakan perbaikan mutu pendidikan di daerahnya. Ia percaya, kemajuan Bangkalan tak bisa hanya bergantung pada APBD atau proyek, tapi harus dimulai dari kualitas sumber daya manusianya.

“Kita butuh generasi muda yang tidak gengsi jadi petani, peternak, atau pengusaha lokal. Saya ingin jadi contoh kecil dari semangat itu,” pungkasnya.

Antara kandang dan kampus, Abdullah membuktikan bahwa pendidikan dan kewirausahaan bisa berjalan beriringan. Di balik bau pakan dan suara sapi yang menggelegak, ada nilai-nilai ketekunan yang sama kuatnya dengan orasi ilmiah di ruang kuliah.

 

Editor : Mohammad Sugianto
#Peternak Milenial #peternak sapi #idul adha #sapi kurban 2025 #pedagang sapi