News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Profil Lengkap Ustadz Yahya Waloni: Dari Pendeta Kristen, Mualaf, hingga Wafat Saat Khutbah Jumat

Mohammad Sugianto • Sabtu, 7 Juni 2025 | 14:05 WIB

 
Ustadz Yahya Waloni saat mengisi acara di suatu tempat
Ustadz Yahya Waloni saat mengisi acara di suatu tempat

MAKASAR-Yahya Waloni lahir dengan nama lengkap Yahya Yopie Waloni di Manado, Sulawesi Utara, pada 30 November 1970. Ia berasal dari keluarga Kristen Protestan yang taat. Sang ayah adalah pensiunan tentara yang pernah menjabat sebagai anggota DPRD tingkat kabupaten di Sulawesi Utara.

Di masa mudanya, Yahya dikenal berjiwa bebas dan nakal. Ia juga mengakui memiliki beberapa tato di tubuhnya sebagai bagian dari masa lalu. Namun demikian, ia memiliki latar pendidikan teologi yang kuat. Yahya menempuh studi teologi formal dan memperoleh gelar doktor dari Institut Theologia Oikumene Imanuel, Manado, pada 10 Januari 2004.

Karier Awal: Dosen dan Pemuka Gereja

Sebelum memeluk Islam, Yahya aktif sebagai pengajar dan pemuka agama. Ia pernah menjabat sebagai Rektor Sekolah Tinggi Theologia Calvinis Ebenhaezer di Sorong, Papua Barat. Selain itu, ia juga tercatat sebagai dosen di Universitas Balikpapan hingga tahun 2006. Yahya mengklaim pernah menjadi pendeta aktif, meskipun klaim tersebut sempat menuai bantahan dari sejumlah tokoh gereja yang menyatakan tidak menemukan bukti formal mengenai penahbisannya sebagai pendeta.

Baca Juga: Ustadz Yahya Waloni Meninggal Dunia Saat Khutbah Jumat di Masjid Makassar

Hijrah Menjadi Muslim: Mualaf pada 2006

Perjalanan spiritual Yahya berubah total pada 11 Oktober 2006, saat ia dan istrinya, Lusiana (yang kemudian berganti nama menjadi Mutmainnah), resmi memeluk agama Islam. Proses syahadat dibimbing oleh Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli, Sulawesi Tengah.

Pasca masuk Islam, Yahya mengganti namanya menjadi Muhammad Yahya Waloni dan mulai aktif berdakwah. Ia menyampaikan ceramah di berbagai kota dan daerah, baik secara langsung maupun melalui media sosial seperti YouTube. Gaya ceramahnya yang cepat, tegas, dan sering menyentuh isu sensitif agama membuatnya dikenal luas, meskipun juga sering menuai kontroversi.

Kontroversi dan Kasus Hukum

Kiprah dakwah Yahya Waloni tidak lepas dari berbagai polemik. Pada tahun 2021, ia sempat dilaporkan atas dugaan ujaran kebencian bernuansa SARA. Pengadilan akhirnya menjatuhkan vonis lima bulan penjara serta denda sebesar Rp50 juta. Ia dinyatakan bebas pada 31 Januari 2022 setelah menjalani hukuman.

Meninggal Dunia Saat Berdakwah

Wafatnya Yahya Waloni saat sedang berdakwah menjadi momen yang mengejutkan banyak pihak, terutama umat Islam yang mengenal kisah hidup dan hijrahnya. Kejadian tersebut terjadi bertepatan dengan hari Jumat menjelang Idul Adha, yang bagi umat Islam adalah waktu penuh berkah.

Jenazah Ustadz Yahya Waloni kemudian disalatkan di masjid tempat ia menyampaikan khutbah terakhir, sebelum dimakamkan dengan penuh penghormatan dari masyarakat dan kalangan pendakwah.

Penutup: Warisan Dakwah Yahya Waloni

Muhammad Yahya Waloni adalah sosok yang menempuh perjalanan spiritual yang panjang dan penuh perubahan. Dari seorang akademisi Kristen dan rektor STT, ia kemudian menjadi seorang ustadz yang aktif menyuarakan dakwah Islam. Meninggal dunia dalam keadaan menyampaikan khutbah di mimbar masjid menjadi penutup dari perjalanan hidup yang penuh warna, kontradiksi, dan dedikasi terhadap keyakinannya.

 

Editor : Mohammad Sugianto
#ustadz yahya waloni #khutbah jumat #makasar