BANGKALAN, RadarBangkalan.id – Pada Agustus 2024, jumlah angkatan kerja di Kabupaten Bangkalan mencapai 607.130 orang. Namun, badan pusat statistik (BPS) mencatat hanya 574.661 orang yang bekerja, sementara 32.469 orang lainnya masih menganggur.
Sebagian besar pekerja yang terdaftar memiliki pendidikan hingga sekolah dasar (SD), dengan persentase mencapai 64,15 persen atau 368.619 orang.
Di sisi lain, tenaga kerja berpendidikan tinggi hanya berjumlah 32.847 orang atau 5,72 persen (lihat grafis).
Baca Juga: Dana Rp 200 Juta Dicoret, Perpusda Bangkalan Tak Dapat Tambahan Koleksi Buku
Kepala BPS Bangkalan, Insaf Santoso, menjelaskan bahwa jumlah penduduk yang bekerja dengan pendidikan SD ke bawah, SMA, SMK, dan universitas mengalami penurunan.
Sementara itu, jumlah pekerja berpendidikan sekolah menengah pertama (SMP) dan Diploma I/II/III menunjukkan tren peningkatan.
"Penduduk berpendidikan SMA yang bekerja mengalami penurunan proporsi terbesar, yaitu 1,44 persen. Sebaliknya, penduduk berpendidikan SMP yang bekerja mengalami kenaikan proporsi terbesar, yaitu 2,90 persen," ujarnya.
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kabupaten Bangkalan pada Agustus 2024 tergolong tinggi, mencapai 5,35 persen dari total angkatan kerja, yang berarti ada 32.469 orang pengangguran di Bangkalan.
Baca Juga: Bupati Bangkalan Keluarkan Surat Edaran untuk Cegah Persebaran Covid-19
"Namun secara keseluruhan, jumlah penduduk yang bekerja meningkat sebanyak 3.500 orang dibandingkan Agustus 2023, atau naik sebesar 0,61 persen," tegasnya.
Bupati Bangkalan Lukman Hakim berkomitmen untuk terus meningkatkan lapangan pekerjaan di Kota Salak. Rencana tersebut tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029.
Langkah awal akan dilakukan melalui berbagai program, termasuk pemerataan infrastruktur dan penyelenggaraan birokrasi yang efisien, sehingga Bangkalan dapat menjadi daerah yang ramah investasi.
"Dengan demikian, lapangan pekerjaan baru akan tercipta dan TPT dapat berkurang. Target kami, pada 2025 TPT bisa ditekan menjadi 5,00 hingga 5,34 persen, dan pada 2030 berada di kisaran 2,50–2,99 persen," pungkasnya. (lil/jup)