BANGKALAN,Radarbnagkalan.id– Momen penuh haru bakal tersaji di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al-Islamy, Congaban, Modung, Bangkalan, Minggu, 20 Juli 2025 mendatang. Dua hari lagi, Ribuan alumni dari berbagai daerah dipastikan bakal tumplek blek dalam satu agenda besar: Reuni dan Haul Akbar ke-10 sekaligus peresmian Masjid Al-Khatibiyah yang kini jadi landmark spiritual baru pesantren tersebut.
Acara yang dikemas dalam balutan religius dan suasana kekeluargaan ini tak sekadar ajang silaturrahmi antaralumni dari lintas angkatan. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi ajang bersyukur atas jejak sejarah panjang pesantren dan kontribusi nyata para alumni dalam membangun serta merawat marwah pondok.
Yang tak kalah dinanti, tokoh nasional sekaligus ulama kharismatik Prof. KH. Zulfa Mustofa, Wakil Ketua Umum PBNU, dijadwalkan hadir untuk memberikan tausiyah utama serta memimpin doa dalam acara tersebut.
“InsyaAllah, Prof. KH. Zulfa Mustofa akan mengisi tausiyah dan memimpin doa. Ini sebuah kehormatan bagi kami dan para alumni yang selama ini terus menjaga hubungan erat dengan pondok,” ujar Ketua Panitia Reuni dan Haul Akbar Kh. Mohammad As'ad Safar.
Putra keempat Kh. Ilyas Chotib itu mengatakan Masjid Al-Khatibiyah yang akan diresmikan dalam momen ini, merupakan hasil gotong royong para alumni dan masyarakat. Bangunan megah nan representatif ini menjadi simbol kebangkitan spiritual dan pusat kegiatan dakwah pesantren di era baru.
“Masjid ini bukan sekadar bangunan, tapi buah cinta para alumni dan wali santri. Sebuah bukti bahwa nilai-nilai pesantren tetap hidup dan terus tumbuh,” ujarnya.
Selain peresmian masjid dan tausiyah akbar, rangkaian acara juga mencakup pembacaan tahlil, doa bersama, dan haul untuk para masyayikh dan pengasuh pondok terdahulu yang telah wafat. Doa dipimpin oleh para habaib dan kiai sepuh yang akan hadir langsung di lokasi.
Tak hanya itu, satu hari sebelum acara puncak, panitia juga menggelar talkshow khusus bertema “Feodal vs Takdzim”, menghadirkan narasumber utama Habib Husain Ja’far Al-Hadar dan KH. Nailir Rohman. Talkshow ini diharapkan menjadi ruang dialog terbuka antara nilai tradisi dan dinamika kehidupan modern yang dihadapi generasi santri hari ini.(gik)
Editor : Mohammad Sugianto