WABAH campak juga menyebar di Kabupaten Pamekasan. Akibat penyakit yang disebabkan oleh virus morbilli itu, satu anak dilaporkan meninggal.
Pemerintah menyarankan agar masyarakat yang memiliki anak rutin melakukan imunisasi.
Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan Saifuddin menyampaikan, virus yang menyerang akan menimbulkan gejala seperti panas, linu-linu, flu, dan batuk.
Selain itu, ditandai dengan bintik merah di beberapa area kulit. Persebarannya melalui udara.
”Kasus campak saat ini sedang musim. Penyebabnya virus yang menyebar melalui udara,” katanya Selasa (26/8).
Berdasarkan data rekam medis elektronik (RME), anak yang suspek campak mencapai 268 kasus, 184 di antaranya berusia dari 0–5 tahun.
Berdasarkan hasil Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, per Senin (25/8) ada 123 anak positif. Satu di antaranya rubella.
”Hasil laboratoriumnya masih kami uji,” tambahnya. Saifuddin memaparkan, penyakit campak bisa menyebabkan kematian.
Hal itu karena virus tersebut dapat mengakibatkan komplikasi. Anak akan mengalami infeksi otak dan paru-paru, terutama anak di bawah lima tahun.
Berdasarkan laporan yang diterimanya, ada satu anak berusia 4 tahun meninggal dengan status suspek campak, yakni di Puskesmas Pasean.
”Itulah yang menyebabkan kematian. Maka, jika sudah terdampak, segera obati ke faskes terdekat,” ucapnya.
Baca Juga: Retribusi RPH Bangkalan Rendah, Baru Capai 38 Persen Hingga Juli 2025
Menurutnya, pencegahan kasus campak dilakukan dengan cara imunisasi secara rutin. Imunisasi tersebut dapat menjadi sistem imun pada anak yang dapat mencegah dari berbagai macam penyakit.
”Orang tua tidak boleh ragu melakukan imunisasi, meskipun ada efeknya, seperti panas dan ini wajar,” paparnya.
Salah satu warga Desa Montok, Kecamatan Larangan, Adityana Saptarini. A menyampaikan, sepekan yang lalu, nafsu makan putrinya menurun disertai panas.
Tubuhnya lemas disertai bintik merah di tubuhnya. Dari hasil diagnosis, diketahui anaknya mengalami campak.
”Ciri campak lainnya yaitu radang tenggorokan. Karena gangguan tenggorokan anak tidak mau makan dan konsumsi obat dari dokter tidak maksimal, sehingga membutuhkan rawat inap,” jelasnya. (ay/han)
Editor : Ina Herdiyana