BANGKALAN – Kasus penyakit campak juga merebak di Kabupaten Bangkalan. Dinas kesehatan (dinkes) mencatat ada 548 orang yang dinyatakan suspek. Sementara 60 orang di antaranya positif dan satu meninggal.
Wakil Bupati (Wabup) Moch. Fauzan Ja’far menyatakan, Pemkab Bangkalan menetapkan kasus campak di Bangkalan berstatus waspada.
Sementara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan status kejadian luar biasa (KLB).
Wabup Fauzan mengaku ada alasan mendasar Pemkab Bangkalan status waspada. Sebab, ratusan kasus tercatat sebagai suspek. Termasuk, 17 balita yang sedang dirawat di RSUD Syamrabu.
”Mungkin (yang dikeluarkan Kemenkes, Red) karena terjadi KLB di tetangga kita (Sumenep), untuk mengantisipasi itu kementerian mencatat sebagai KLB di daerah Madura,” katanya Rabu (27/8).
Dia menegaskan, pemkab telah mengambil langkah kewaspadaan dini supaya tidak terjadi KLB campak di Kota Salak. Salah satunya menggencarkan imunisasi kejar campak di 22 puskesmas di 18 kecamatan.
Fauzan menyatakan, belasan pasien suspek campak yang menjalani perawatan di RSUD Syamrabu sudah dalam pemeriksaan laboratorium (epidemiologi). Status positif atau tidaknya baru diketahui setelah hasil pemeriksaan keluar.
”Kami harapkan masyarakat, kalau terjadi tanda-tanda yang mengarah ke campak untuk mendatangi puskesmas terdekat atau minimal ke posyandu,” tegasnya.
Kepala Puskesmas Kota Bangkalan Anastasia Mulyani mengeklaim pihaknya melakukan imunisasi campak serentak di lima kelurahan. Di antaranya, Kelurahan Bancaran, Demangan, Pangeranan, Pejagan, dan Kraton.
Adapun jumlah kasus campak yang tercatat di Puskesmas Kota Bangkalan sebanyak 75 kasus suspek dan tidak ada yang dinyatakan positif. Semua pasien dinyatakan sembuh dan tidak ada yang menjalani perawatan medis.
”Sasarannya (imunisasi campak, Red) balita usia sembilan bulan sampai 59 bulan. Kami ingin menekan angka kesakitan tekait kasus campak ini,” pungkasnya. (lil/han)
Editor : Ina Herdiyana