PAMEKASAN – Senyum kembali mengembang di wajah para buruh rokok di Pamekasan. Setelah lama menunggu, bantuan langsung tunai (BLT) dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) akhirnya cair Senin (20/10).
Tahun ini 4.458 buruh dari 54 perusahaan rokok se-Pamekasan menerima kucuran dana tersebut.
Setiap pekerja mendapatkan Rp 600 ribu. Total anggaran yang digelontorkan pemerintah mencapai Rp 2,67 miliar.
Tiga perusahaan tercatat sebagai penerima terbanyak. Salah satunya, CV Jawara Internasional Djaya.
Sejak pagi, antrean buruh tampak mengular di halaman pabrik. Mereka akan menerima bantuan yang sudah mereka tunggu sejak lama, yakni BLT DBHCHT.
Direktur CV Jawara Internasional Djaya Marsuto Alfianto mengatakan, BLT tersebut menjadi bentuk perhatian nyata pemerintah terhadap kesejahteraan buruh.
Bantuan itu sangat membantu bagi mereka. Meski nilainya tidak besar, manfaatnya terasa langsung.
Marsuto menjelaskan, perusahaannya menebus cukai sebesar Rp 98,6 miliar pada 2025. Dari jumlah itu, 366 pekerja di perusahaannya berhak menerima BLT DBHCHT. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu.
”Tahun ini ada peningkatan sekitar 20 persen. Tahun lalu ada 268 pekerja yang menerima bantuan. Sementara, nilai tebus cukai Rp 58,6 miliar. Semoga tren positif ini terus berlanjut agar lebih banyak lagi karyawan yang bisa merasakan manfaatnya,” ujar Alfian.
Dia menambahkan, pemerintah berencana untuk menaikkan nominal BLT DBCHT menjadi Rp 1,5 juta per orang.
Peningkatan nilai bantuan itu diharapkan seiring dengan meningkatnya capaian penebusan cukai di Pamekasan. Sehingga, jumlah penerima juga semakin banyak.
Baca Juga: Eksplorasi Tembakau Madura (4), Tak Ada Pupuk Subsidi untuk Tembakau
Selain itu, Marsuto mengingatkan agar bantuan tersebut digunakan secara bijak. Dia menegaskan, uang itu sebaiknya dipakai untuk kebutuhan pokok keluarga, bukan untuk hal negatif seperti judi online (judol). Meski begitu, dia optimistis uang itu dimanfaatkan baik.
Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinsos Pamekasan Agus Wijaya menjelaskan bahwa penyaluran BLT dilakukan secara bertahap.
Tahap pertama difokuskan untuk penerima buruh rokok, sebelum berlanjut ke kelompok buruh tani.
Menurut dia, distribusi bantuan bagi buruh rokok dijadwalkan berlangsung selama sepekan penuh.
Agus menargetkan, jika tidak ada kendala, penyaluran bagi kelompok buruh tani dapat dilakukan mulai pekan depan. Pola bertahap itu dilakukan agar tidak terjadi penumpukan penerima di lapangan.
Agus memerinci, Kecamatan Larangan menjadi wilayah dengan jumlah penerima terbanyak, yakni 19 perusahaan rokok.
Disusul Pademawu dengan 8 perusahaan, Palengaan 6 perusahaan, serta Pamekasan, dan Pakong masing-masing 4 perusahaan.
”Sementara di Pasean dan Tlanakan tercatat 3 perusahaan; Kadur, Galis, dan Pegantenan 2 perusahaan; serta Proppo 1 perusahaan. Semoga bantuan ini benar-benar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan pekerja,” harapnya. (afg/han)
Editor : Ina Herdiyana