Radarbangkalan.id - Setelah sempat beralih menggunakan Pertamax akibat maraknya kasus motor brebet dan mogok, para pengemudi ojek online (Ojol) di Kabupaten Tuban dan Bojonegoro kini kembali menggunakan Pertalite. Perubahan ini terjadi sejak Jumat (7/11/2025), setelah kondisi kendaraan mereka kembali normal pasca perawatan di bengkel.
Ketua Komunitas Ojol Bojonegoro, Suwito, menyampaikan bahwa seluruh motor anggota komunitas kini berjalan stabil tanpa kendala setelah kembali mengisi Pertalite.
Baca Juga: Inilah Kelebihan dan Kekurangan BBM Dicampur Ethanol Menurut Beberapa Ahli
“Sudah sekitar tiga hari ini kami pakai Pertalite lagi dan motor berjalan normal. Nggak ada brebet atau mogok,” ungkap Suwito.
Ia menjelaskan bahwa pada awal kejadian, banyak pengemudi yang sempat khawatir karena mesin motor terasa tidak bertenaga usai mengisi Pertalite di sejumlah SPBU. Demi keamanan, mereka memutuskan beralih sementara ke Pertamax meski biaya bahan bakar menjadi lebih mahal.
“Waktu itu kami beralih ke Pertamax dulu, meskipun biayanya lebih mahal. Yang penting motor bisa jalan lancar, karena ojol kerjanya bergantung pada kendaraan,” ujarnya.
Pertamina dan SPBU Dapat Apresiasi atas Tindak Cepat
Suwito juga mengapresiasi langkah cepat pihak SPBU dan Pertamina Patra Niaga yang langsung turun tangan menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait masalah BBM. Ia menyebut bahwa kini kualitas Pertalite sudah jauh lebih baik dan aman digunakan.
“Kami berharap ke depan nggak ada lagi kejadian serupa. Kalau sekarang, Pertalite sudah aman dan bisa kami pakai seperti biasa,” tambahnya.
Biaya Operasional Ojol Kembali Normal
Ketua DPC Perhimpunan Driver Online Indonesia (PDOI) Tuban, Yuri Novianto, menuturkan bahwa insiden motor brebet beberapa waktu lalu membuat banyak anggota komunitasnya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perbaikan motor.
“Sebagian besar pengemudi kemarin memilih beralih ke Pertamax karena takut kejadian serupa terulang,” ujarnya.
Namun keputusan tersebut berdampak besar pada meningkatnya biaya operasional harian para pengemudi.
“Biasanya kami habis Rp50 sampai Rp60 ribu per hari untuk BBM, tapi waktu pakai Pertamax bisa tembus Rp100 ribu,” jelas Yuri.
Ia mengakui bahwa sebagian kendaraan kini telah kembali beroperasi normal, meski beberapa pengemudi masih merasa waswas saat kembali mengisi Pertalite.
“Kami berharap Pertamina memperketat pengawasan kualitas (quality control) terhadap BBM yang didistribusikan ke masyarakat,” pungkasnya.
Baca Juga: Inilah Kelebihan dan Kekurangan BBM Dicampur Ethanol Menurut Beberapa Ahli
Dengan kembalinya kepercayaan para pengemudi ojol terhadap Pertalite, diharapkan aktivitas operasional transportasi daring di Tuban dan Bojonegoro bisa kembali berjalan lancar tanpa kendala teknis seperti sebelumnya.
Editor : Ubaidillah