BANGKALAN – Suara tawa anak-anak sering menjadi irama paling indah di ruang kelas. Namun di balik keceriaan itu, tidak jarang terselip kisah kecil tentang ejekan, perundungan, atau sikap saling merendahkan yang tanpa sadar lahir dari kurangnya pemahaman tentang empati.
Di sinilah para guru ditantang: bagaimana menciptakan ruang belajar yang benar-benar ramah anak, menyenangkan, dan bebas dari perilaku bullying.
Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menghadirkan program bertajuk Pendampingan Guru dalam Pembelajaran Ramah Anak Berbantuan Game Edukasi Digital sebagai Upaya Pencegahan Bullying.
Program ini merupakan bagian dari kegiatan yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) sebagai wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mencerdaskan bangsa dengan cara yang inovatif dan relevan dengan zaman.
Kegiatan yang dilaksanakan di TK Negeri Pembina Pejagan, Bangkalan, ini dipimpin oleh Eka Oktavianingsih, S.Pd., M.Pd. dengan anggota Siti Fadjryana Fitroh, S.Psi., M.A. dan Muhlis Tahir, S.Pd., M.Tr.Kom. serta dukungan mahasiswa Fatmawati dan Masittha Izzati dari MBKM KKNT.
Kepala sekolah Ibu Hj. Maryatul Kiptiyah, S.Pd. menyambut hangat inisiatif ini dan menggerakkan seluruh guru untuk berpartisipasi aktif.
Teknologi yang Mendidik, Bukan Mengganti
Selama ini, teknologi sering dianggap menjauhkan anak dari dunia nyata. Namun melalui program ini, paradigma itu perlahan diubah.
Game digital justru dijadikan alat jembatan edukatif untuk menumbuhkan empati, kerja sama, dan nilai anti-bullying dengan cara yang dekat dengan dunia anak.
Sebelum pelatihan dimulai, tim melaksanakan focus group discussion (FGD) untuk menggali kebutuhan nyata guru di lapangan.
Dari diskusi ini, lahirlah rancangan pelatihan yang relevan dan bisa langsung diterapkan di kelas. Sebanyak 11 guru dari TK Negeri Pembina Pejagan menjadi peserta pendampingan.
Mereka tidak hanya belajar mengoperasikan game edukatif, tetapi juga memahami filosofi penting di baliknya: bahwa setiap permainan harus menggunakan pendekatan yang tepat.
Pendekatan deep learning menjadi landasan kegiatan, mencakup tiga dimensi utama. Yakni, mindful learning (belajar dengan kesadaran), meaningful learning (belajar yang bermakna), dan joyful learning (belajar yang menyenangkan).
Guru-guru dilatih untuk tidak hanya memahami media, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan dan karakter dalam setiap langkah pembelajaran.
Pelatihan Menuju Transformasi
Materi pelatihan mencakup lima topik utama: 1) Pemahaman dasar pembelajaran ramah anak di PAUD; 2) Karakteristik dan kebutuhan belajar anak usia dini; 3) Pengenalan game edukasi digital dalam konteks PAUD; 4) Integrasi game edukasi digital dalam pembelajaran ramah anak; dan 5) Evaluasi pembelajaran ramah anak berbasis game digital.
Selama kegiatan, suasana penuh semangat dan rasa ingin tahu terlihat jelas. Para guru antusias mencoba, berdiskusi, bahkan mengusulkan ide-ide kreatif untuk pengembangan game yang lebih sesuai dengan karakter anak mereka.
”Kami tidak menyangka bermain game bisa menjadi cara mendidik yang begitu bermakna. Anak-anak bisa belajar empati, menghargai teman, dan mengendalikan emosi tanpa merasa digurui,” ujar salah seorang guru.
Kegiatan pendampingan ini berlangsung intensif sejak September hingga November 2025 dengan sesi yang terus berkembang dari teori ke praktik langsung.
Setiap pertemuan menjadi ruang refleksi bersama, di mana guru tidak hanya belajar, tetapi juga saling menguatkan untuk menjadi pendidik yang sadar makna.
Sinergi untuk Dunia Anak yang Lebih Damai
Ketua Tim Eka Oktavianingsih, S.Pd., M.Pd. menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pelatihan, melainkan sebuah gerakan kecil menuju perubahan besar dalam dunia pendidikan anak usia dini.
”Kami ingin membantu guru menemukan kembali makna mendidik dengan hati bukan hanya mengajar, tetapi juga menumbuhkan karakter anak agar tidak ada lagi ruang bullying di dunia mereka,” ucapnya.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari rektor UTM dan ketua LPPM yang terus mendorong dosen untuk menghadirkan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Program ini menegaskan bahwa pendidikan ramah anak tidak harus meninggalkan teknologi. Justru dengan pendekatan yang bijak, teknologi bisa menjadi sarana membangun karakter, empati, dan kebahagiaan belajar sejak usia dini.
Menebar Harapan dari Bangkalan
Dari ruang-ruang kelas di TK Negeri Pembina Pejagan, gelombang perubahan kecil mulai berembus.
Guru-guru kini lebih percaya diri menghadirkan pembelajaran yang bermakna dan bebas dari kekerasan.
Mereka sadar, setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan belajar yang aman, penuh cinta, dan menghargai perbedaan.
Di tangan para pendidik yang terlatih, game edukasi digital bukan lagi sekadar permainan, melainkan jendela menuju masa depan pendidikan yang lebih manusiawi. (*)
Editor : Ina Herdiyana