BANGKALAN – Penyidik Satreskrim Polres Bangkalan masih mendalami kasus meninggalnya enam santri Pondok Pesantren (Ponpes) Jabal Quran, Desa Jaddih, Socah, Bangkalan.
Pihak kepolisian melakukan rekonstruksi di tempat kejadian perkara (TKP) Bukit Jaddih pada Jumat (21/11).
Sedikitnya, ada dua puluh santri, termasuk ustadah menjalani proses rekonstruksi. Puluhan santri itu memerankan sekitar 39 adegan.
Mulai awal berangkat dari pesantren hingga korban ditemukan mengapung di kolam bekas galian c. Jaraknya tidak begitu jauh dari pondok.
Kapolsek Socah Iptu Pariadi mengungkapkan, 39 adegan yang diperankan sekitar 20 santri dan ustadah saat prarekonstruksi.
Mereka memperagakan keberangkatan para korban dengan para saksi lainnya hingga terjadi insiden maut itu.
”Semua diperagakan, mulai para korban berangkat dari Ponpes Jabal Quran hingga ke kolam bekas galian c,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, rekontruksi berjalan cukup lama, yakni mulai pukul 15.00 hingga 17.00. Para santri naik ke area tambang untuk melakukan latihan bersama sebelum korban ditemukan tenggalam.
Latihan itu juga diawasi oleh dua orang ustadah bersama beberapa orang santri lainnya. ”Yang memerankan ada ustad dan ustadzah serta beberapa orang saksi lainnya,” paparnya.
Ustadah Hesti mengaku ikut menemani para korban pada saat latihan. Dia menyatakan, korban turun ke kolam sebelum melakukan latihan bersama santri lainnya.
Berselang beberapa menit, mereka dikabarkan hilang. ”Beberapa menit kemudian ada yang bilang ke kami bahwa para korban mandi ke kolam,” bebernya.
Sebelumnya, warga Desa Jaddih dikejutkan insiden tragis tenggelamnya enam santri Jabal Quran di kolam bekas galian C Bukit Jaddih, Kamis (20/11) sekitar pukul 16.00.
Seluruh korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Sekitar pukul 17.30, satu per satu korban dievakuasi oleh seorang pengasuh ke Puskesmas Jaddih menggunakan sepeda motor. Seluruhnya dinyatakan meninggal dunia.
Keenam santri tersebut awalnya beraktivitas di area bukit. Seorang di antaranya tiba-tiba hilang dan ditemukan berada di kolam bekas tambang. Lima santri lainnya mencoba mendekat untuk menolong, namun justru ikut tenggelam.
Identitas enam korban yaitu: Louvin Al Baru Suhara santri asal Surabaya; Rosyid Ainul Yakin, 10, asal Surabaya; Salman Alfarisi, 9 warga Surabaya; Reynand Azka Mahardika, 9, asal Surabaya; Moh. Nasiruddin Adrai asal Sampang; dan Muhammad Akhtar Muzajn Ainul Izzi, asal Surabaya. (za/bil)