BANGKALAN – Sebanyak 105 kiai datang ke Pasarean Syaikhona Muhammad Kholil di Desa Martajasah, Kecamatan Kota Bangkalan, pada Selasa (2/12) malam.
Mereka melaksanakan istighotsah bersama sebagai bentuk keprihatinan atas konflik internal yang terjadi di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Setelah kegiatan itu, para kiai bermusyawarah di Pondok Pesantren (Ponpes) Annuriyah, Demangan, Bangkalan. Akhirnya, mereka memunculkan pernyataan sikap atas konflik di internal PBNU.
KH Syafik Rofi’i menyatakan, semua tokoh kiai yang hadir dalam forum pertemuan merasa prihatin atas dinamika yang terjadi di internal PBNU.
Penyelesaian masalah itu diserahkan sepenuhnya kepada ulama selaku pemegang otoritas tertinggi di dalam organisasi keagamaan tersebut.
Mantan wakil bupati Bangkalan itu mengajak warga NU untuk tenang dan mempererat ukhuwah nahdliyah.
”Kalau konflik ini tidak terselesaikan, yang rugi bukan hanya warga NU, tapi bangsa ini juga ikut rugi,” sambung perwakilan zuriah Syaikhona Muhmmad Kholil tersebut.
Ketua PCNU Bangkalan KH Makki Nasir menyatakan, kegiatan silaturahmi dan munajat nasional itu mengundang para kiai dan pengasuh pesantren di Indonesia.
Tujuannya, berdoa bersama di Pesarean Syaikhona Kholil Bangkalan. Kegiatan itu diinisasi zuriah Syaikhona Muhammad Kholil.
”Kalau urusan NU itu urusan kiai-kiai sepuh. Tugas kita hanya bermunajat kepada Allah agar para kiai teguh di dalam membina dan membimbing umat,” tuturnya. (za/jup)
Editor : Ina Herdiyana