SUMENEP – Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Sumenep telah merampungkan riset terkait persoalan banjir yang kerap melanda wilayah Kota Keris.
Dalam pelaksanaan penelitian tersebut, brida menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Kepala Brida Sumenep Benny Irawan menjelaskan, riset dimulai sejak September 2025. Tahapan awal diawali dengan pelaksanaan focus group discussion (FGD) yang melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
"Hasil penelitian ini nantinya akan dilaporkan kepada pimpinan daerah dan menjadi dasar kebijakan OPD teknis. Pengawalan selanjutnya bukan di kami, tetapi di OPD teknis,” terangnya.
Benny mengungkapkan, penelitian tersebut telah terintegrasi dengan seluruh OPD yang berkaitan dengan penanganan banjir di Sumenep.
Dalam kajian itu, Brida juga menyertakan sejumlah rekomendasi solusi jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang.
Menurut dia, sesuai fase yang direkomendasikan, banyak langkah yang bisa segera dilakukan OPD teknis.
Salah satunya pada solusi jangka pendek, yakni pembentukan satuan tugas (satgas) banjir serta inspeksi saluran air di titik-titik rawan genangan.
"Langkah itu bisa menjadi kebijakan awal. Dengan begitu, OPD teknis dapat menetapkan dan memetakan titik-titik genangan,” katanya.
Namun, Benny mengakui dokumen hasil riset tersebut baru saja rampung sehingga belum sepenuhnya diurai dan ditindaklanjuti oleh OPD teknis. Untuk sementara, penanganan banjir masih mengacu pada master plan sebelumnya.
"Dokumen ini kan baru selesai, jadi OPD teknis masih belum mengurai secara detail. Karena itu, sementara masih menggunakan master plan yang lama,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III DPRD Sumenep Wahyudi meminta agar hasil penelitian tersebut segera diimplementasikan dan dijadikan rujukan utama dalam penyusunan kebijakan.
Dia menegaskan, program yang disusun pemerintah daerah harus bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam penanganan banjir perkotaan.
"Program Pemkab Sumenep harus mengacu pada hasil penelitian. Jangan sampai membuat program yang tidak menyentuh persoalan riil masyarakat. Banjir di wilayah perkotaan ini sudah menjadi problem,” tegasnya. (tif/han)
Editor : Ina Herdiyana