RadarBangkalan.id – Pemenuhan sarana dan prasarana Pasar Lenteng menjadi perhatian wakil rakyat.
Sebab, dewan menemukan beberapa persoalan saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Lenteng, Minggu (25/1).
Anggota Komisi II DPRD Sumenep Syamsiadi menyampaikan, temuan persoalan saat sidak berkaitan dengan pemenuhan fasilitas pasar.
Fasilitas yang tersedia tidak sebanding dengan tingginya pendapatan asli daerah (PAD) yang disetorkan.
”Pasar Lenteng selama ini dikenal sebagai salah satu pasar strategis dengan aktivitas ekonomi yang cukup tinggi. Kontribusi PAD-nya juga sangat signifikan,” ujarnya Senin (26/1).
Ironisnya, kata Syamsiadi, sejumlah fasilitas yang kini digunakan pedagang tidak berasal dari pemerintah.
Banyak kios, lapak, maupun sarana pendukung lainnya dibangun paguyuban pasar.
Pedagang juga berinisiatif untuk melakukan urunan guna membangun atau memperbaiki tempat berjualan mereka secara mandiri.
Itu mengindikasikan peran pemerintah daerah dalam menyediakan saran dan prasarana pasar yang layak belum optimal.
Padahal, seharusnya retribusi yang dipungut dari pedagang dikembalikan dalam bentuk fasilitas yang memadai.
Komisi II juga menyoroti area tempat pemotongan hewan yang tidak difungsikan sesuai dengan peruntukan awal.
Padahal, sambung Syamsiadi, area itu memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali.
Salah satunya dengan pelebaran dan penataan ulang pasar guna menjawab keterbatasan ruang dan meningkatkan kenyamanan pedagang maupun pengunjung.
”Pemerintah harus segera mencari solusi, jangan sampai aset pasar dibiarkan terbengkalai, sementara pedagang kekurangan ruang dan fasilitas,” ucapnya.
Dia menegaskan, persoalan itu perlu ditangani secara menyeluruh. Mulai dari evaluasi pengelolaan retribusi, peningkatan kualitas, hingga optimalisasi aset pasar.
”Kami akan tindak lanjuti persoalan ini ke dinas terkait,” tegasnya.
Sementara itu, Kabid Perdagangan DKUPP Sumenep Idham Halil tidak dapat dimintai keterangan terkait persoalan tersebut.
Saat dihubungi melalui nomor yang biasa digunakan, yang bersangkutan tidak merespons. (tif/jup)
Editor : Ina Herdiyana