Radarbangkalan.id— Nama Hendrik Murbawan, S.H., M.H. menjadi salah satu figur penting di lingkungan penegakan hukum di Bangkalan selama lebih dari 21 bulan terakhir.
Dalam perannya sebagai Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Bangkalan, ia dikenal oleh kolega dan mitra lembaga sebagai jaksa yang tegas dalam menangani perkara sekaligus dekat dengan proses penegakan hukum di setiap lini masyarakat.
Pria berkacamata ini memegang peran sentral dalam pengendalian berbagai kasus pidana umum yang masuk ke kejaksaan.
Berdasarkan data yang dihimpun sepanjang awal 2025, Kejari Bangkalan menerima lebih dari 170 laporan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari kepolisian, dan sekitar 85 kasus di antaranya berhasil dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Bangkalan untuk disidangkan.
“Saya selalu tekankan kepada tim, bahwa tugas kami adalah mengawal proses hukum secara profesional dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Setiap kasus punya cerita dan dampaknya masing-masing bagi keluarga serta masyarakat,” ujar Hendrik, saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.
Pendekatan Human-Interest di Setiap Perkara
Hendrik tidak hanya berkutat di balik meja perkara. Dalam sejumlah persidangan besar—termasuk tuntutan terhadap terdakwa kasus pembunuhan mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang sempat menarik perhatian publik—ia secara konsisten menunjukkan sikap profesional yang mempertimbangkan berbagai aspek hukum dan dampak sosial dari setiap keputusan.
“Yang penting bagi kami adalah memastikan hak semua pihak terpenuhi dan proses penegakan hukum dilakukan dengan adil.
Ini bukan sekadar angka atau statistik—ini tentang kehidupan manusia,” kata Hendrik sambil menata dokumen yang ada di mejanya.
Lebih jauh, ia juga aktif menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk kepolisian, pengacara, dan korban atau keluarga korban, untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang proses hukum yang berjalan.
Koordinasi Lintas Institusi
Dalam tugasnya, Hendrik menekankan pentingnya sinergi antarinstansi penegak hukum.
Bahkan dalam perkara yang kompleks—seperti kasus penganiayaan yang berujung pengembalian berkas karena belum lengkap atau kasus yang dikembalikan untuk melengkapi petunjuk jaksa—penekanan pada kolaborasi tetap menjadi prioritas.
“Kadang berkas harus kami kembalikan ke penyidik demi kepastian proses yang lebih kuat di pengadilan. Tapi itu bagian dari tanggung jawab bersama. Kami ingin semuanya bisa diproses dengan matang,” ujarnya.
Transisi ke Tugas Baru
Kini, setelah menjalankan tugasnya di Bangkalan, Hendrik dipercaya menempati posisi baru sebagai Kepala Seksi Intelijen di Kejaksaan Negeri Brebes.
Pergeseran ini mencerminkan apresiasi institusi terhadap pengalaman dan dedikasi yang telah ia tunjukkan selama bertugas di Madura.
Rekan sejawat menggambarkan sosoknya sebagai figur yang rendah hati, cepat tanggap, dan berpikir strategis dalam setiap langkah penanganan perkara.
Warisan Profesionalisme
Bagi banyak pihak di lingkungan hukum lokal, kehadiran Hendrik memberi warna tersendiri bagi dinamika peradilan di Bangkalan. Program koordinasi, peningkatan kualitas dakwaan, serta keterlibatan dalam kasus-kasus yang berdampak luas dipandang sebagai kontribusi nyata untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem peradilan.
Dengan pengalaman yang telah teruji di Bangkalan, Hendrik kini melangkah ke fase baru dalam kariernya. Sosok ini tetap menjadi inspirasi bagi jaksa muda yang ingin memadukan integritas, empati, dan profesionalisme dalam tugas penegakan hukum di Tanah Air. ***
Editor : Abdul Basri