News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Dari Babat Alas, Jadi Cahaya Dakwah, Perjalanan Panjang Pesantren Nurulhuda Ubah Wajah Sosial Pakandangan

Ina Herdiyana • Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:16 WIB
Pondok Pesantren Nurulhuda
Pondok Pesantren Nurulhuda

Berawal dari babat alas yang dilakukan K Mawardi Khotib pada awal abad ke-20, Pesantren Nurulhuda Pakandangan, Kecamatan Bluto, Sumenep, kini menjelma menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam yang berpengaruh di wilayahnya.

SEJARAH berdirinya Pesantren Nurulhuda Pakandangan, Kecamatan Bluto, Sumenep, tidak bisa dilepaskan dari jaringan besar dakwah ulama Madura, khususnya dari Prenduan.

Cikal bakal pesantren tersebut bermula dari proses babat alas yang dilakukan K Mawardi Khotib pada awal hingga pertengahan abad ke-20.

Baca Juga: Masjid Nurus Syadzili Nyaman Digunakan untuk Istirahat Musafir

K Mawardi Khotib hijrah dari Prenduan ke Pakandangan sekitar 1920–1940-an dengan membawa misi dakwah. Saat itu, kondisi sosial-keagamaan masyarakat Pakandangan Barat masih memprihatinkan.

Praktik perjudian, sabung ayam, konsumsi minuman keras tradisional, hingga pergaulan bebas disebut masih marak.

Selain itu, aktivitas keagamaan belum berjalan optimal. Langgar dan majelis taklim belum berkembang, serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan Islam masih terbatas.

Melihat kondisi tersebut, K Mawardi Khotib tidak hanya membuka lahan secara fisik. Dia juga melakukan ”babat alas” dalam arti sosial, yakni mengubah kebiasaan masyarakat yang dinilai menyimpang dari nilai-nilai syariat.

Baca Juga: Masjid Megah Nurus Syadzili di Kampung Panitan, Bangkalan, Nama Diambil dari Tariqah As Syadziliyah

Dengan pendekatan persuasif dan dakwah bil hikmah, perubahan dilakukan secara bertahap. Melalui keteladanan akhlak dan penguatan spiritual, masyarakat mulai diajak meninggalkan kebiasaan lama.

Di atas lahan yang dirintis itu, berdiri langgar sederhana. Dari tempat tersebut, pengajian Al-Qur’an dan kitab kuning mulai berkembang. Anak-anak belajar mengaji pada sore hari, sementara orang dewasa mengikuti pengajian malam.

Perubahan pun perlahan terlihat. Praktik kemaksiatan berkurang, salat berjemaah semakin ramai, dan kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak ke lembaga keagamaan mulai tumbuh.

Secara genealogis, K Mawardi Khotib memiliki keterkaitan dengan jaringan ulama Prenduan, termasuk Kiai Djauhari Khotib, perintis Pesantren Al-Amien Prenduan.

Baca Juga: Timnas Indonesia Pesta Gol 4-0, Beckham Cetak Brace di Debut John Herdman

Relasi tersebut menunjukkan bahwa gerakan dakwah di Pakandangan merupakan bagian dari mata rantai penguatan pendidikan Islam di Sumenep.

Jika Kiai Djauhari Khotib membangun basis pendidikan besar di Prenduan, maka K Mawardi Khotib melanjutkan semangat tersebut melalui pembukaan wilayah dakwah di Pakandangan.

Momentum penting terjadi pada 1991. Pesantren Nurulhuda resmi didirikan sebagai sistem pendidikan berasrama 24 jam setelah kepulangan Kiai Saifurrahman Nawawi dari Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.

Dengan pengalaman pendidikan modern, serta dukungan masyarakat, lembaga tersebut kemudian diformalkan menjadi pesantren dengan sistem yang lebih tertata. Model pendidikan yang diterapkan memadukan tradisi salaf dengan sistem kelembagaan modern.

Baca Juga: Timnas Indonesia vs Bulgaria di Final FIFA Series 2026, Jadwal dan Hasil Lengkap

Transformasi yang terjadi di Pakandangan Barat menjadi bukti bahwa berdirinya Pesantren Nurulhuda tidak sekadar menghadirkan lembaga pendidikan. Lebih dari itu, menjadi gerakan perubahan sosial dan moral masyarakat.

”Kini, pesantren tersebut terus berdiri sebagai pusat dakwah di Pakandangan, melanjutkan perjuangan para perintis dalam membangun peradaban Islam di Madura, kata Maufiqurrahman, alumnus sekaligus tenaga pengajar di pesantren tersebut. (*/han)

Editor : Ina Herdiyana
#Ponpes Nurulhuda #pakandangan #sumenep #dakwah #bluto #pondok pesantren