RadarBangkalan.id – Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, mempercepat langkah untuk memutus rantai penularan tuberkulosis (TB).
Melalui Dinas Kesehatan setempat, Bangkalan resmi berkolaborasi dengan program Life-saving Facility and Community-based Service Delivery Support for Tuberculosis (FCSDS), sebuah inisiatif global untuk memperkuat penemuan kasus dan mutu pengobatan di tingkat tapak.
Program yang diinisiasi oleh Stop TB Partnership Global dengan dukungan Pemerintah Amerika Serikat dan diimplementasikan oleh Stop TB Partnership Indonesia (STPI) bersama SIP doctorSHARE ini menempatkan Bangkalan sebagai salah satu daerah prioritas di Jawa Timur.
Sosialisasi program telah dilakukan pada Selasa, 7 April 2026, di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan dengan melibatkan seluruh Kepala Puskesmas dan Penanggung Jawab (PJ) TB se-Kabupaten Bangkalan.
Memperkuat Temuan Kasus Melalui Skrining Sistematis Tuberkulosis
Urgensi program ini dipicu oleh besarnya beban estimasi kasus TB di Bangkalan. Berdasarkan data, estimasi insiden TB di wilayah Bangkalan pada tahun 2026 mencapai 2.694 kasus.
Untuk mencapai target penemuan kasus TBC di Bangkalan, program FCSDS akan mengandalkan strategi jemput bola melalui:
· Investigasi Kontak (IK): Pelacakan terhadap kontak serumah pasien TBC.
· Community Outreach (CO): Mobilisasi kader dan komunitas untuk menjangkau populasi berisiko tinggi, seperti kontak erat pasien TBC, ODHIV, penderita DM, Anak dengan gizi buruk/Gizi kurang, serta orang dengan gejala TB.
· Skrining Sistematis TB (SSTB): Pemeriksaan terduga risiko TB yang terstruktur dan terintegrasi dengan layanan kesehatan masyarakat.
Inovasi teknologi dan penggunaan AI turut dilibatkan. Tim lapangan akan dibekali unit ultra portable X-ray yang memungkinkan skrining paru dilakukan langsung di tengah pemukiman warga yang sulit mengakses fasilitas kesehatan.
Prioritas pada TB Resisten Obat
Tak sekadar mendeteksi, program ini memberikan atensi khusus pada kasus TB Resisten Obat (TB RO). Pasien kategori ini kerap menghadapi tantangan pengobatan yang lebih berat dan jangka panjang.
Dinas Kesehatan dan tim FCSDS akan mengimplementasikan skema pendampingan komprehensif, mulai dari dukungan nutrisi, pendampingan psikososial, hingga penguatan tata laksana klinis melalui kegiatan MICA, MiCO, audit klinis serta clinical mentorship.
Tujuannya satu: memastikan pasien tidak putus obat dan mendapatkan layanan berkualitas di fasilitas rujukan yang terus diperkuat.
Komitmen Lintas Sektor
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PM) Dinas Kesehatan Bangkalan, dr. Wiwid Mayasari, menegaskan bahwa kolaborasi dengan program FCSDS ini merupakan momentum penting dalam upaya eliminasi TB di Bangkalan.
"Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini. Kami berharap kolaborasi Dinkes Bangkalan dan program FCSDS mampu mendongkrak temuan kasus secara signifikan," ujar Wiwid.
Menurutnya, deteksi dini adalah kunci keberhasilan penanganan TB. "Semakin cepat kasus ditemukan, maka pencegahan penularan serta pengobatan bisa dilakukan lebih efektif. Ini menjadi langkah krusial menuju eliminasi TB di Kabupaten Bangkalan," tambahnya.
Melalui sinergi antara tenaga medis di Puskesmas, kader komunitas, dan dukungan teknologi modern, Bangkalan optimistis dapat menekan angka kesakitan, kematian, serta dapat mewujudkan kabupaten yang lebih sehat dan tangguh dari ancaman TB. ***
Editor : Abdul Basri