News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Unesa Gandeng Komunitas Masyarakat Lumpur Jadi Mitra Pelatihan Menulis Sastra Kearifan Budaya Lokal Madura

Ina Herdiyana • Selasa, 21 April 2026 | 09:58 WIB
SEMANGAT LITERASI: Dari kiri, M. Shoim Anwar, Arafat Nur, Setya Yuwana, Titik Indarti, dan M. Helmi mengisi Pelatihan Penulisan Sastra Kreatif Berbasis Kearifan Budaya Lokal Madura untuk Meningkatkan Kompetensi Publikasi Karya Sastra bagi Anggota KML di SMKN 1 Bangkalan, Sabtu (18/4). UNESA UNTUK JPRM
SEMANGAT LITERASI: Dari kiri, M. Shoim Anwar, Arafat Nur, Setya Yuwana, Titik Indarti, dan M. Helmi mengisi Pelatihan Penulisan Sastra Kreatif Berbasis Kearifan Budaya Lokal Madura untuk Meningkatkan Kompetensi Publikasi Karya Sastra bagi Anggota KML di SMKN 1 Bangkalan, Sabtu (18/4). UNESA UNTUK JPRM

SUASANA aula SMKN 1 Bangkalan tampak berbeda pada Sabtu (18/4) pagi. Jika pada hari-hari biasa ruangan itu dipenuhi murid dalam kegiatan belajar, akhir pekan lalu suasana berubah hangat.

Kursi-kursi tertata rapi. Percakapan tentang puisi, cerpen, hingga novel terdengar dari berbagai sudut ruangan. Hari itu, aula sekolah tersebut menjelma dapur sastra.

Sebanyak 40 peserta dari Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) Bangkalan mengikuti Pelatihan Penulisan Sastra Kreatif Berbasis Kearifan Budaya Lokal Madura untuk Meningkatkan Kompetensi Publikasi Karya Sastra.

Baca Juga: Warga Bangkalan Tewas di Taiwan, Disperinaker Bangkalan Klaim Belum Diketahui Penyebab Kematian

Esensi dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat itu adalah penerbitan buku antologi puisi yang ditulis oleh peserta dengan tema kearifan budaya lokal Madura.

Deretan pemateri yang hadir adalah nama-nama yang cukup dikenal di dunia sastra dan akademik. Ada Prof Setya Yuwana dan Titik Indarti, perwakilan dari Senat Akademik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), M. Shoim Anwar, Endah Emawati, Kukuh Setyo Wibowo, hingga peraih Khatulistiwa Literary Awards (KLA) 2011 Kategori Fiksi (novel Lampuki), yaitu Arafat Nur.

Prof Setya Yuwana membuka sesi dengan mengajak peserta menoleh ke akar identitasnya sendiri. Menurut dia, orang Madura wajib membaca buku Manusia Madura karya Mien Ahmad Rifai. Sebab, di dalamnya tergambar karakter, perilaku, penampilan, etos kerja, hingga ideologi masyarakat Madura.

Prof Setya Yuwana juga menyinggung falsafah terkenal masyarakat Madura. Yakini, bhuppa’, bhâbhu’, ghuru, rato. Hierarki penghormatan itu menempatkan ayah dan ibu di urutan pertama, lalu guru atau kiai, dan pemerintah/bupati di posisi berikutnya.

Baca Juga: Dari Kelas ke Layar: Universitas Trunojoyo Madura Dampingi Guru Hadirkan Pembelajaran Ramah Anak Berbasis Teknologi ”Cegah Bullying lewat Game Edukasi

”Di situlah kekuatan sastra Madura. Ada nilai lokal yang tidak dimiliki daerah lain. Dan yang paling paham kekayaan itu tentu orang Madura sendiri. Ayo kembangkan kekayaan budaya lokal itu,” ajaknya.

Materi kemudian bergeser ke ruang kreatif. M. Shoim Anwar mengupas bagaimana cerpen lahir dari pengalaman dan kejujuran batin penulis.

Menurut dia, penulis tidak bisa instan. Jam terbang panjang dibutuhkan untuk menemukan karakter diri penulis. ”Pengalaman pribadi adalah sumber paling otentik,” terang penulis Mandikan Mayatku dengan Tuak itu.

Dia memaparkan beberapa langkah sederhana dalam menulis cerita, baik cerpen maupun novel. Pertama dimulai dari ide, memperdalam masalah, menyusun alur, menentukan tokoh dan latar, menuangkan cerita, lalu membaca ulang dan mengedit naskah yang telah ditulis.

Baca Juga: Cokelat Dubai: Bukan Sekadar Cokelat Biasa yang Viral

Shoim menerangkan, modal terpenting tetaplah bahasa. Penguasaan aspek kebahasaan merupakan hal utama dalam menulis. Seberapa jauh penulis mampu mengolah kata menjadi daya pikat.

Puncak perhatian peserta tertuju pada Arafat Nur saat berbicara. Dia tidak hanya berbagi teknik menulis, tetapi juga bercerita kisah hidup yang keras. Novelis asal Aceh itu menceritakan bagaimana dirinya mulai menulis di tengah konflik bersenjata di tanah kelahirannya.

Saat dentuman perang terdengar, dia justru melawan bedil dengan pena. Mulanya dia mengirim puisi ke surat kabar lokal. Ketika tulisannya dimuat, semangatnya mulai tumbuh.

Dari puisi, dia menulis cerpen, kemudian novel. Novel pertama yang dia tulis berjudul Percikan Darah di Bunga pada 2005. Karya-karyanya banyak berangkat dari lingkungan sekitar dan konflik yang dia saksikan sendiri.

Baca Juga: Sepeda Listrik: Dari Tren Gaya Hidup hingga Solusi Transportasi Masa Depan  

”Menulis itu soal bertahan, tidak perlu merasa minder atau tidak diterima masyarakat. Kadang dari keadaan paling sulit justru lahir karya paling jujur,” ungkapnya.

Sesi berikutnya diisi Kukuh Setyo Wibowo yang membahas peluang menembus media cetak melalui majalah. Lalu, dilanjutkan oleh Endah Emawati tentang perkembangan sastra digital yang kini membuka ruang publikasi lebih luas. Sebagai pemungkas, M. Helmi bersama Rozekki mengisi materi tentang teknik menulis puisi.

Ketua KML Bangkalan M. Helmi menjelaskan, pelatihan tersebut bukan sekadar agenda rutin. Tahun ini Komunitas Masyarakat Lumpur genap berusia 22 tahun. Kemitraan dengan Universitas Negeri Surabaya melalui senat akademik merupakan hadiah istimewa.

”Kami bangga menjadi mitra senat akademik Unesa. Tentu momen kerja sama ini kami jadikan sebagai kado ulang tahun ke-22 KML yang telah berkiprah tanpa lelah di dunia sastra,” ujarnya.

Baca Juga: Bali United Mengamuk! Tekuk Malut United 4-1 di Super League

Helmi menuturkan, para peserta kembali mendapat angin segar dan terinspirasi dengan adanya pelatihan tersebut.

Sebab, selama ini salah satu kendala utama pengembangan menulis karya sastra di daerah adalah akses. Misalnya, akses belajar, akses jejaring, dan akses publikasi. (*/yan)

Editor : Ina Herdiyana
#komunitas masyarakat lumpur #pelatihan menulis sastra #senat akademik unesa #jadi mitra