RadarBangkalan.id - Banjir yang melanda Lewoleba, Kabupaten Lembata, pada Selasa (28/4/2026), mengungkap persoalan klasik yang belum terselesaikan: buruknya sistem drainase, sedimentasi parah, serta penumpukan sampah di saluran air.
Hujan deras selama sekitar dua jam cukup untuk melumpuhkan aliran air di wilayah perkotaan. Air dari hulu, termasuk kiriman dari Cekdam Komak, tidak mampu tertampung dan akhirnya meluap ke permukiman warga.
Baca Juga: Bupati Lembata Dorong Ekonomi Nyata, Program Pemantik Hasilkan Rp47 Juta dari Panen Semangka
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah mencatat sebanyak 107 rumah terdampak, dua fasilitas umum rusak, serta satu korban jiwa di Desa Atulaleng, Kecamatan Buyasuri.
Wilayah yang paling parah terdampak meliputi Lewoleba Timur, Selandoro, dan Lewoleba Tengah, disusul sejumlah titik di Lewoleba Barat dan Selatan. Pemerintah daerah pun menetapkan status tanggap bencana.
Baca Juga: Update Kecelakaan Kereta Bekasi: 15 Meninggal Dunia, Sebagian Masih Diidentifikasi
Drainase Tersumbat dan Sedimentasi Parah
Hasil peninjauan pemerintah menunjukkan kapasitas saluran air di dalam kota telah menurun drastis. Banyak drainase tersumbat sampah rumah tangga, sementara sedimentasi menumpuk di kanal dan bantaran kali.
Baca Juga: 951 Pinjol Ilegal Ditutup OJK, Dana Korban Rp585 Miliar Berhasil Diamankan
Akibatnya, air hujan yang seharusnya mengalir ke laut justru tertahan dan meluap ke kawasan permukiman.
Di bagian hulu, kondisi Cekdam Komak juga memprihatinkan. Pendangkalan serius serta vegetasi liar mempersempit jalur air. Selain itu, jalur air terbuka tanpa pengendalian turut memperbesar debit air yang masuk ke pusat kota saat hujan deras.
Baca Juga: Persib Bangkit dari 0-2, Tumbangkan Bhayangkara FC 4-2 di Super League
Sementara di hilir, seperti di Kali Muko Ona, desain drainase yang tidak optimal dan sedimentasi memperparah kondisi. Aliran air tersendat dan akhirnya meluap ke rumah warga.
Langkah Darurat dan Evaluasi Jangka Panjang
Bupati P. Kanisius Tuaq bersama Wakil Bupati Muhamad Nasir telah menginstruksikan pengerukan sedimentasi dan pembersihan saluran drainase di titik-titik kritis.
Pemerintah juga mengerahkan alat berat untuk membuka kembali jalur air yang tersumbat. Namun, langkah ini dinilai masih bersifat sementara.
Baca Juga: Update Klasemen Super League 2025/2026: Borneo FC Pimpin, Persib Turun ke Posisi 2
Evaluasi internal menegaskan perlunya solusi jangka panjang, seperti normalisasi sungai, rehabilitasi cekdam, serta penataan ulang sistem drainase perkotaan. Selain itu, pengawasan bantaran sungai dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi faktor penting.
Baca Juga: Ronaldo Cetak Gol, Al Nassr Tundukkan Al Ahli 2-0 di Liga Arab Saudi
Warga Desak Solusi Permanen
Sejumlah warga berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan darurat. Banjir yang terus berulang setiap musim hujan dinilai sebagai tanda lemahnya tata kelola lingkungan di Lewoleba.
Tanpa pembenahan menyeluruh dari hulu hingga hilir, banjir serupa dikhawatirkan akan terus terjadi dengan dampak yang semakin besar.
Baca Juga: Malut United Pesta Gol, Hancurkan PSBS Biak 7-0 di Pekan ke-30 Super League
Bencana ini menjadi peringatan bahwa pengelolaan drainase dan daerah aliran sungai harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan, terutama di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem.
Editor : Ubaidillah