RadarBangkalan.id - Sejumlah pabrik asal China yang bergerak di sektor padat karya berencana direlokasi ke Kawasan Industri Madura di Bangkalan, Jawa Timur. Rencana tersebut sempat dikaitkan dengan penolakan dari Badan Silaturahim Ulama Madura (BASRA).
Namun, Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Kholil Bangkalan, KH Imam Bukhori, menegaskan bahwa BASRA tidak pernah mengeluarkan sikap resmi untuk menolak investor China yang akan masuk ke Bangkalan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Lucu-lucuan, Lomba Istri Ngomel Suami di Gresik Singgung Perceraian
KH Imam Bukhori atau yang akrab disapa Ra Imam menyebut pernyataan penolakan yang mengatasnamakan ulama Madura merupakan sikap personal.
"Itu kan personal saja yang mengklaim, mengatasnamakan ulama Madura dan habaib," kata Ra Imam, Selasa (18/8/2026).
BASRA Tidak Menolak Industrialisasi Madura
Ra Imam menegaskan, sikap BASRA bukan berada pada posisi menerima atau menolak industrialisasi di Madura. Ulama Madura, kata dia, memberikan sejumlah rambu agar pembangunan industri tetap memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.
"Intinya sikap BASRA bukan menolak atau menerima industrialisasi di Madura, tapi memberikan rambu-rambu yang termaktub dalam 9 poin itu," tegasnya.
Baca Juga: Polres Bangkalan Amankan Ustaz Diduga Lecehkan Anak di Madrasah Tragah
Ia juga membantah jika terdapat pihak yang menyebut seluruh ulama Madura telah menolak rencana masuknya industri China ke Bangkalan.
"Kalau terus kemudian ada yang mengatakan ulama Madura langsung menolak itu klaim saja dan personal itu," imbuhnya.
Baca Juga: Kondisi Terkini Pria di Lumajang yang Kemaluannya Dipotong Istri, Masih Jalani Perawatan
Bangun Madura, Bukan Sekadar Membangun di Madura
Menurut Ra Imam, pembangunan industri di Madura harus memperhatikan kearifan lokal. Pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan kawasan industri, tetapi juga harus meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
"Tidak hanya membangun di Madura, tetapi membangun Madura. Itu inti dari sikap BASRA dari dulu mulai sejak zaman Orde Baru sampai sekarang tetap menjadi acuan," tandasnya.
Karena itu, investasi yang masuk diharapkan tidak menjadikan masyarakat Madura sekadar penonton di daerahnya sendiri.
9 Rambu Industrialisasi Madura
BASRA memiliki sembilan poin yang menjadi rambu dalam menyikapi pembangunan industri dan investasi di Madura.
Baca Juga: Ojol Lempar Molotov ke 2 Pos Polisi Surabaya Ternyata Sudah Diintai Selama Dua Hari
- Penyelarasan nilai agama
Setiap tahap dan regulasi industrialisasi harus tetap selaras dengan nilai-nilai Islam. - Ulama sebagai pengawal kebijakan
Ulama ditempatkan sebagai mitra kritis pemerintah dalam mengawal proses pembangunan. - Peningkatan kualitas SDM
Pendidikan dan keterampilan masyarakat lokal harus ditingkatkan seiring dengan pembangunan industri. - Bangun Madura, bukan membangun di Madura
Tanah Madura tidak boleh hanya menjadi objek proyek ekonomi tanpa memberikan pemberdayaan kepada masyarakat setempat. - Perlindungan moralitas publik
Dampak sosial, sekularisme, dan materialisme yang mungkin muncul akibat industrialisasi perlu dimitigasi. - Penyaringan budaya luar
Budaya lokal harus tetap dilindungi dari potensi perubahan gaya hidup yang tidak sesuai dengan nilai masyarakat Madura. - Kejelasan tata ruang wilayah
Pengembangan kawasan industri harus memiliki tata ruang yang matang dan tidak menggeser permukiman masyarakat secara paksa. - Keterlibatan berbagai unsur masyarakat
Tokoh agama, akademisi, serta masyarakat lokal perlu dilibatkan sebelum kerja sama investasi disepakati. - Pemerataan kesejahteraan
Hak dan kepentingan ekonomi masyarakat lokal harus menjadi prioritas agar warga mendapatkan manfaat langsung dari investasi.
Dengan sembilan rambu tersebut, BASRA menekankan bahwa kehadiran industri di Bangkalan tidak semata-mata diukur dari jumlah pabrik atau investasi yang masuk, tetapi juga dari sejauh mana pembangunan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Madura.
Baca Juga: Lomba 17 Agustus Bisa Picu Cedera, Dokter Ortopedi Ungkap Risiko yang Perlu Diwaspadai
Editor : Ubaidillah