RadarBangkalan.id - Pulau Kalimantan dipenuhi titik lingkaran merah pada aplikasi Google Maps yang menunjukkan indikator severe fire atau kebakaran parah. Titik-titik tersebut terlihat tersebar di berbagai wilayah Kalimantan dan paling padat di Kalimantan Selatan.
Fenomena tersebut menjadi perhatian warganet di tengah meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Banyak masyarakat khawatir terhadap dampak kabut asap, kualitas udara, hingga risiko kekeringan yang dapat semakin parah selama musim kemarau.
Baca Juga: Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Kalimantan, Sejumlah Pesawat Terpaksa Batal Terbang
Berdasarkan pantauan pada Kamis (20/8/2026), indikator kebakaran terlihat tersebar mulai dari Kalimantan Utara hingga Kalimantan Selatan.
Warganet Soroti Titik Kebakaran di Google Maps
Banyaknya indikator kebakaran di Google Maps turut menjadi perbincangan di media sosial X, sebelumnya Twitter.
Seorang pengguna X mengaku awalnya membuka Google Maps untuk keperluan pekerjaan. Namun, perhatiannya kemudian tertuju pada banyaknya indikator kebakaran yang terlihat di Pulau Kalimantan.
Ia membagikan tangkapan layar Google Maps dan menggambarkan luasnya titik kebakaran yang terlihat dari aplikasi tersebut.
Baca Juga: RSUD Ruteng Rusak Akibat Gempa, Menkes Kerahkan Dokter Ortopedi dan Bangun RS Lapangan
Warganet lainnya juga membagikan video kondisi lapangan yang menunjukkan asap tebal menyelimuti sejumlah ruas jalan di Kalimantan. Kondisi tersebut kemudian memunculkan tagar #PrayForKalimantan.
Baca Juga: Polres Bangkalan Amankan Ustaz Diduga Lecehkan Anak di Madrasah Tragah
BNPB: Satgas Terus Padamkan Karhutla
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan upaya pemadaman karhutla masih terus dilakukan.
Menurutnya, Satuan Tugas (Satgas) penanganan karhutla mengerahkan tim darat dan udara untuk menangani kebakaran di sejumlah provinsi terdampak.
Namun, BNPB menyatakan belum ada bandara yang ditutup akibat karhutla.
Karhutla Bukan Masalah Baru di Indonesia
Kebakaran hutan dan lahan bukan fenomena baru di Indonesia. Sejumlah kebakaran besar pernah terjadi di wilayah Sumatra dan Kalimantan serta menimbulkan dampak lingkungan, ekonomi, kesehatan, hingga kabut asap lintas negara.
Baca Juga: Kondisi Terkini Pria di Lumajang yang Kemaluannya Dipotong Istri, Masih Jalani Perawatan
Berdasarkan catatan Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI), salah satu karhutla berskala besar dalam sejarah modern Indonesia terjadi di Kalimantan Timur pada 1982-1983.
Saat itu, fenomena El Nino memicu kekeringan ekstrem. Kondisi cuaca yang panas dan kering kemudian diperparah oleh praktik pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran.
Aktivitas pembalakan liar juga disebut meningkatkan kerentanan kawasan hutan. Limbah kayu yang tertinggal di kawasan hutan dapat menjadi bahan bakar ketika terjadi kebakaran.
Baca Juga: Ojol Lempar Molotov ke 2 Pos Polisi Surabaya Ternyata Sudah Diintai Selama Dua Hari
Data FGMI mencatat kebakaran pada periode 1982-1983 menghanguskan sedikitnya 3,2 juta hektare lahan di Kalimantan Timur. World Resources Institute (WRI) memperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana tersebut mencapai US$9 miliar.
Karhutla Besar Kembali Berulang
Setelah peristiwa 1982-1983, kebakaran besar kembali terjadi pada sejumlah periode, antara lain 1997-1998, 2006, 2015, dan 2019.
Karhutla pada periode tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat dan perekonomian, tetapi juga menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan.
Salah satu kejadian terbesar dalam beberapa dekade terakhir terjadi pada 2015. Laporan yang dikutip dalam artikel tersebut mencatat sekitar 2,6 juta hektare lahan terbakar.
Ratusan ribu masyarakat dilaporkan mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), sementara puluhan orang meninggal dunia akibat dampak bencana tersebut.
Baca Juga: Bansos Dihentikan untuk Rekening Terindikasi Judi Online, Ribuan KPM Dicoret
Musim Kemarau Tingkatkan Risiko Karhutla
Risiko karhutla semakin tinggi ketika Indonesia memasuki musim kemarau. Riset Annisa Musrifatun Nur'Aini dan Athaya Putri Tatia Ananta dari Fakultas Kehutanan UGM pada 2025 menyebut sebagian besar karhutla di Indonesia dipicu aktivitas manusia atau faktor antropogenik.
Baca Juga: Kolesterol Normal Bukan Jaminan Bebas Serangan Jantung, Ini Faktor Risikonya
Pembukaan lahan dengan cara membakar masih digunakan karena dianggap lebih murah dan cepat. Namun, praktik tersebut dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih besar terhadap lingkungan, kesehatan, dan perekonomian.
Risiko juga semakin besar di kawasan lahan gambut. Kanalisasi dapat mengeringkan ekosistem gambut sehingga lebih mudah terbakar.
Dalam kondisi tertentu, api bahkan dapat menyebar di bawah permukaan tanah atau disebut subsurface fire. Jenis kebakaran tersebut sulit dideteksi dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan.
Dengan kondisi kemarau dan meningkatnya aktivitas karhutla, masyarakat di wilayah terdampak perlu mewaspadai kualitas udara serta mengikuti informasi dan imbauan dari pemerintah terkait kondisi kebakaran.
Baca Juga: Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan? Kepala BGN dan Dokter Gizi Beri Penjelasan Ilmiah
Editor : Ubaidillah