Sound Horeg Tembus 120 dB, Pakar Ungkap Risiko Gangguan Pendengaran

Ubaidillah • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 07:30 WIB
Ilustrasi sound horeg (Foto: tangkapan layar)
Ilustrasi sound horeg (Foto: tangkapan layar)

RadarBangkalan.id - Fenomena sound horeg kembali marak dalam berbagai perayaan HUT Kemerdekaan RI pada Agustus. Di balik kemeriahan tersebut, masyarakat perlu mewaspadai paparan suara dengan intensitas sangat tinggi karena berisiko mengganggu pendengaran hingga memicu masalah pada telinga.

Pakar Otologi dan Neurotologi Universitas Airlangga, dr Rosa Falerina SpTHT BKL Subsp NO K, mengatakan intensitas suara sound horeg umumnya dapat mencapai lebih dari 120 desibel (dB). Paparan suara pada tingkat tersebut dapat berbahaya bagi organ pendengaran.

Baca Juga: Tangis Mahasiswi ALSU Pecah Saat Minta Maaf ke Ibu di Polrestabes Surabaya

"Suara yang sangat keras membuat sel rambut di dalam koklea bekerja ekstra hingga menjadi tidak bergerak (stuck) atau tumbang seperti hutan yang gundul," ujar Rosa, Minggu (23/8/2026).

Menurutnya, ketika sel rambut di dalam koklea mengalami kerusakan, kemampuan telinga dalam meneruskan suara menuju otak juga dapat terganggu.

Paparan di Atas 120 dB Hanya Bisa Ditoleransi Sesaat

Rosa menjelaskan suara dengan intensitas lebih dari 120 dB memiliki batas paparan yang sangat singkat. Pada tingkat tersebut, manusia disebut hanya dapat menoleransi paparan sekitar 3,5 detik per hari.

Karena itu, masyarakat yang berada di sekitar lokasi sound horeg perlu melakukan langkah perlindungan untuk mengurangi risiko gangguan pendengaran.

Baca Juga: Dugaan Penyalahgunaan Dana PIP di Bangkalan, FPB Minta Polres Segera Beri Kepastian Hukum

Jika terpaksa berada di lokasi, penggunaan alat pelindung telinga dapat menjadi salah satu pilihan. Namun, Rosa mengingatkan penggunaan earplug saja belum cukup karena hanya mampu meredam sebagian intensitas suara.

"Apabila terpaksa berada di lokasi, penggunaan sumbat telinga (earplug) saja tidak cukup karena hanya meredam sekitar 30 desibel, sehingga idealnya dikombinasikan dengan earmuff," jelasnya.

Jaga Jarak dari Sound Horeg

Penggunaan pelindung telinga juga tidak sepenuhnya menghilangkan risiko. Gelombang suara dari sound horeg yang sangat kuat dapat merambat melalui tulang kepala menuju organ pendengaran.

Oleh sebab itu, langkah paling efektif adalah menjaga jarak dari sumber suara dan membatasi durasi paparan.

Baca Juga: Parkir Berlangganan Bangkalan Dipertanyakan, Warga Masih Diminta Bayar Meski Punya Stiker Gratis

"Oleh karena itu, cara paling efektif adalah menjaga jarak, membatasi durasi paparan, serta menjauhkan kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, dan lansia dari lokasi sound horeg," tutur Rosa.

Telinga Berdenging Bisa Jadi Tanda Awal

Salah satu tanda yang perlu diwaspadai setelah terpapar suara sangat keras adalah tinnitus atau telinga berdenging.

Rosa menjelaskan denging dapat menjadi sinyal awal adanya gangguan pada sel rambut telinga bagian dalam. Jika paparan berlangsung singkat dan seseorang segera menjauh dari sumber suara, kondisi pendengaran masih berpeluang pulih.

Sebaliknya, paparan yang berlangsung lama dan membuat denging menetap dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran permanen.

Baca Juga: Studi Ungkap Wajah Orang Kaya Bisa Terlihat Berbeda, Ini Penjelasannya

"Denging itu sinyal awal bahwa sel rambut luar sedang terganggu. Jika terpaparnya singkat dan warga langsung menjauh, pendengaran masih bisa pulih. Namun jika terpapar lama dan berdengingnya menetap, gangguan pendengaran itu berisiko menjadi permanen," jelasnya.

Dentuman Bass Bisa Picu Vertigo

Selain gangguan pendengaran dan tinnitus, paparan dentuman sound horeg dengan frekuensi rendah juga berpotensi memicu vertigo.

Menurut Rosa, koklea atau rumah siput berada berdekatan dengan sistem keseimbangan di telinga bagian dalam. Dentuman yang sangat kuat dapat memengaruhi sistem tersebut dan menimbulkan sensasi berputar.

"Dentuman yang sangat kuat tak hanya mengguncang rumah siput, tetapi juga menyenggol sistem keseimbangan sehingga memicu sensasi berputar atau vertigo," ungkapnya.

Baca Juga: Sering Alami Iyup Saat Pakai Behel? Dokter Ungkap Penyebab dan Kapan Hilang

Rosa bahkan pernah menangani pasien ibu dan anak yang mengalami penurunan pendengaran serta denging berkepanjangan setelah terpapar sound horeg, meski suara tersebut hanya melintas di depan rumah mereka.

Segera Periksa Jika Pendengaran Menurun

Masyarakat yang mengalami penurunan pendengaran, tinnitus berat, atau keluhan lain setelah terpapar sound horeg disarankan segera memeriksakan kondisi telinga ke dokter THT.

Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui kondisi organ pendengaran sekaligus memastikan tidak terjadi kerusakan lebih serius.

"Jika muncul keluhan, harus segera diperiksakan ke dokter THT terdekat. Kita perlu melihat kondisi fisik telinga, sebab suara ekstrem juga berisiko membuat gendang telinga robek atau pecah," pungkas Rosa.

 Baca Juga: Bansos Dihentikan untuk Rekening Terindikasi Judi Online, Ribuan KPM Dicoret

Editor : Ubaidillah
kesehatan pendengaran paparan suara keras surabaya hut kemerdekaan ri sound horeg