RadarBangkalan.id - Sebanyak 54 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Kabupaten Ponorogo selama musim kemarau 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat, total area yang terdampak karhutla mencapai sekitar 189,11 hektare hingga 31 Agustus 2026.
Kalaksa BPBD Ponorogo Masun mengatakan, puluhan kejadian karhutla tersebut tersebar di 13 kecamatan dan 38 desa. Area yang terbakar mencakup kawasan hutan, hutan rakyat, hingga sebagian lahan milik masyarakat.
Baca Juga: Usai 49 Siswa dan Guru Keracunan MBG, SPPG Begadung 2 Nganjuk Tutup
"Sampai dengan tanggal 31 Agustus, telah terlaporkan sebanyak 54 kejadian kebakaran hutan dan lahan kepada BPBD," kata Masun, Kamis (3/9/2026).
Menurut Masun, total luas wilayah yang terdampak mencapai 189,11 hektare. Kondisi musim kemarau yang kering menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah Ponorogo.
"Total area terdampak mencapai 189,11 hektare. Area tersebut meliputi kawasan hutan, hutan rakyat, maupun sebagian lahan masyarakat," jelasnya.
Baca Juga: Ustaz di Pasuruan Diamankan, Diduga Cabuli Dua Murid Perempuan Usia 11 Tahun
Baca Juga: Nama Tak Muncul di Daftar Bansos? Begini Cara Cek Status dan Desil Pakai NIK
13 Kecamatan Terdampak Karhutla
BPBD Ponorogo mencatat karhutla terjadi di 13 kecamatan, yakni Slahung, Balong, Jambon, Badegan, Sampung, Kauman, Bungkal, Ponorogo, Sambit, Jenangan, Siman, Mlarak, dan Sawoo.
Dari wilayah tersebut, Balong, Slahung, Jambon, Bungkal, dan Sambit menjadi sejumlah daerah dengan laporan karhutla terbanyak sepanjang Juli hingga Agustus 2026.
Baca Juga: Ribuan Jarum Suntik Bekas Dibuang di Sidoarjo, DLH Surabaya Dorong Proses Hukum
Di lima wilayah tersebut, laporan kebakaran rata-rata mencapai lebih dari empat hingga lima kejadian selama periode Juli dan Agustus.
"Di beberapa wilayah seperti Balong, Slahung, Jambon, Bungkal, dan Sambit, jumlah laporannya rata-rata lebih dari empat sampai lima kejadian selama Juli dan Agustus," ungkap Masun.
BPBD Ingatkan Bahaya Membakar Lahan
Meningkatnya kejadian karhutla membuat BPBD Ponorogo meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Warga diimbau tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api, terutama ketika kondisi lingkungan masih kering.
Baca Juga: BPBD Pamekasan Pasang Pamflet Cegah Karhutla di Hutan Jati, Warga Diminta Waspada
BPBD secara khusus mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sumber api secara sembarangan, termasuk puntung rokok. Warga juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan pertanian dengan cara dibakar.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan membuang sumber api, termasuk puntung rokok, dan tidak membuka lahan pertanian dengan cara membakar," tegas Masun.
Baca Juga: Dokter Ungkap Hubungan Berat Badan dan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi
Menurutnya, kondisi musim kemarau membuat vegetasi menjadi lebih mudah terbakar. Daun, ranting, dan serasah yang mengering dapat menjadi bahan bakar alami yang membuat api cepat menyebar.
Selain itu, angin kencang juga dapat mempercepat penjalaran api ketika kebakaran terjadi.
"Kondisi cuaca yang kering, angin kencang, ditambah banyaknya serasah dan daun kering membuat api sangat mudah muncul dan meluas," ujarnya.
Puncak Kemarau Masih Berpotensi Berlanjut
BPBD Ponorogo meminta masyarakat tetap waspada karena musim kemarau belum sepenuhnya berakhir. Puncak musim kemarau yang terjadi pada Agustus masih berpotensi memberikan dampak hingga September.
Baca Juga: Bayi 1 Tahun Didiagnosis Sembelit, Ternyata Idap Kanker Langka dengan Tumor 30 Cm
Karena itu, upaya pencegahan menjadi penting untuk menekan bertambahnya kejadian karhutla. Masyarakat diharapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum kebakaran meluas.
"Kami berharap masyarakat bersama-sama melakukan pencegahan agar kejadian karhutla tidak terus meningkat," pungkas Masun.
Editor : Ubaidillah