RadarBangkalan.id - Warga Dusun Tumpaksuruh, Desa Margomulyo, Kabupaten Blitar, harus rela mengantre untuk mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang. Kondisi tersebut terjadi setelah sumur-sumur warga mengering sehingga kebutuhan air sehari-hari tidak lagi dapat dipenuhi secara mandiri.
Warga membawa berbagai wadah, mulai dari galon bekas hingga jerigen, untuk menampung air yang disalurkan pemerintah. Mereka mengantre dengan tertib tanpa berebut demi mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci pakaian.
Baca Juga: Korban Keracunan MBG di Sidoarjo Capai 664 Orang, 77 Masih Dirawat
Salah seorang warga, Tri Nanik (48), mengaku ikut mengantre sejak sekitar pukul 13.00 WIB. Sejumlah jerigen dan galon bekas telah disiapkan untuk menampung air yang didistribusikan.
Menurut Nanik, dropping air bersih biasanya dilakukan setiap dua hari sekali. Warga setempat telah meminta bantuan air bersih sejak sekitar dua minggu terakhir.
"Untuk air bersih ini biasanya memang 2 hari sekali datangnya. Sudah sejak dua minggu yang lalu kami minta bantuan air bersih. Ini tapi hanya satu lingkungan sekitar sini," ujar Nanik saat ditemui pada Sabtu (5/9/2026).
Sumur Warga Mengering Sejak Tiga Bulan
Nanik mengatakan sumur warga di wilayah tersebut telah mengering sejak sekitar tiga bulan lalu. Namun, warga baru mengajukan permintaan bantuan air bersih dalam beberapa minggu terakhir ketika kondisi semakin sulit.
Air hasil dropping pemerintah digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.
Baca Juga: 54 Karhutla Terjadi di Ponorogo hingga Agustus 2026, Luas Lahan Terdampak 189 Hektare
"Ya ini airnya untuk kebutuhan sehari-hari, ya mandi ya nyuci dan sebagainya. Cukup ndak cukup ya harus dihemat," kata Nanik.
Baca Juga: Usai 49 Siswa dan Guru Keracunan MBG, SPPG Begadung 2 Nganjuk Tutup
Kondisi tersebut membuat warga harus menghemat penggunaan air agar persediaan yang diterima dapat bertahan hingga dropping berikutnya.
17 Ribu Liter Air Disalurkan
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blitar Wahyudi mengatakan pemerintah menyalurkan sekitar 17 ribu liter air bersih kepada warga Dusun Tumpaksuruh.
Bantuan tersebut terdiri dari tiga tangki. Dua tangki masing-masing membawa sekitar 6 ribu liter air, sedangkan satu tangki lainnya berisi sekitar 5 ribu liter.
"Untuk sore ini dropping air dari Bu Gubernur totalnya sekitar 17 ribu liter. Ini untuk mencukupi 40 KK dengan 162 jiwa. Dropping ini kami lakukan 2 hari sekali," jelas Wahyudi.
Dengan demikian, distribusi air bersih tersebut diperuntukkan bagi sekitar 40 kepala keluarga atau 162 jiwa yang terdampak kekeringan.
Baca Juga: Ustaz di Pasuruan Diamankan, Diduga Cabuli Dua Murid Perempuan Usia 11 Tahun
Enam Desa di Blitar Terdampak Kekeringan
Wahyudi menyebut dampak kemarau panjang di Kabupaten Blitar saat ini telah meluas. Setidaknya terdapat enam desa di empat kecamatan yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Wilayah terdampak berada di Kecamatan Wates, Panggungrejo, Kademangan, dan Wonotirto.
BPBD Kabupaten Blitar juga melakukan verifikasi terhadap wilayah lain yang berpotensi mengalami kekeringan. Salah satu wilayah terbaru yang akan diverifikasi berada di Kecamatan Wonotirto, tepatnya Desa Ngadipuro.
"Sampai dengan hari ini ada 6 desa. Yang terbaru dan akan dilakukan verifikasi di Kecamatan Wonotirto, yaitu di Desa Ngadipuro," tandas Wahyudi.
Baca Juga: Dana Tabungan Alumni SMKN 1 Kemlagi Belum Cair, Sekolah Sebut Ada Masalah Program Lama
Kondisi tersebut menunjukkan dampak kemarau panjang mulai dirasakan sejumlah warga Blitar. Dropping air bersih pun dilakukan secara berkala untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang sumurnya mengering.
Editor : Ubaidillah