BMKG Pantau Abu Gunung Anak Krakatau 24 Jam, Sebarannya Capai Bengkulu

Ubaidillah • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 06:59 WIB
Abu Gunung Anak Krakatau Menyebar hingga Bengkulu, BMKG Terbitkan 18 SIGMET. (bmkg)
Abu Gunung Anak Krakatau Menyebar hingga Bengkulu, BMKG Terbitkan 18 SIGMET. (bmkg)

 

RadarBangkalan.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan sebaran abu vulkanik serta dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Baca Juga: Bandara Soekarno-Hatta Dibuka Lagi, Penerbangan Kembali Beroperasi Bertahap

 

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan, Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang langsung menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET) setelah erupsi awal Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB.

Hingga Minggu (6/9), BMKG telah menerbitkan 18 SIGMET secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan navigasi udara.

"Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat," kata Andri.

Baca Juga: Erupsi Menerus Gunung Anak Krakatau Berakhir Setelah 25 Jam, Status Masih Siaga

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, IDAI Ingatkan Orang Tua Lindungi Anak dari Abu Vulkanik

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Andri menjelaskan, abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan di sekitarnya.

Sementara itu, abu vulkanik pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Wilayah yang terdampak sebaran pada ketinggian tersebut meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, hingga Samudra Hindia.

Baca Juga: Masker Dibasahi untuk Tangkal Abu Vulkanik? Dokter Paru Ungkap Risikonya

Kondisi tersebut turut memengaruhi operasional sejumlah bandar udara. Berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM) yang diterbitkan Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia pada 6 September, terdapat penutupan sementara operasional di sejumlah bandara pada waktu yang berbeda.

Bandara yang terdampak antara lain Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II, dan Bandara Budiarto.

Kondisi operasional penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik serta informasi keselamatan penerbangan terbaru.

Penutupan Bandara Hasil Koordinasi Lintas Instansi

Penutupan sementara sejumlah bandara dilakukan melalui koordinasi berbagai pemangku kepentingan penerbangan nasional. Kebijakan tersebut melibatkan Otoritas Bandar Udara, BMKG, Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia, serta pengelola bandar udara.

Baca Juga: Kemarau Panjang, Warga Blitar Antre Air Bersih hingga Bawa Jerigen

Koordinasi juga dilakukan bersama Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU), InJourney, otoritas setempat, dan TNI. Sinergi tersebut dilakukan untuk memastikan setiap keputusan dalam kondisi darurat tetap mengutamakan keselamatan operasional penerbangan.

Baca Juga: Guru di Jombang Dilaporkan Diduga Perkosa Siswi hingga 13 Kali, Korban Trauma Berat

Perum LPPNPI kemudian menerbitkan NOTAM sebagai pemberitahuan resmi mengenai perubahan kondisi operasional atau potensi bahaya bagi penerbangan.

Penerbitan NOTAM melengkapi peringatan dini Volcanic Ash Advisory dan SIGMET yang dikeluarkan BMKG secara berkala. Informasi tersebut menjadi acuan bagi pemangku kepentingan penerbangan dalam merespons perubahan kondisi cuaca dan ruang udara.

BMKG Pantau Kondisi Laut Selat Sunda

Selain memantau atmosfer dan penerbangan, BMKG juga melakukan pemantauan terhadap kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, berdasarkan pemantauan 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07.00 WIB, tidak ditemukan adanya anomali muka air laut.

Analisis menggunakan teknologi High-Frequency (HF) Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung juga menunjukkan probabilitas tsunami berada pada tingkat rendah, yakni di bawah 40 persen. Pada saat pemantauan, tinggi gelombang laut berada di kisaran satu meter.

Baca Juga: Ustaz di Pasuruan Diamankan, Diduga Cabuli Dua Murid Perempuan Usia 11 Tahun

"BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intensitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal," ujarnya.

BMKG Perkuat Pemantauan 24 Jam

Untuk mengantisipasi perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau, BMKG mengoptimalkan kesiapsiagaan nasional melalui pemantauan terpadu berbasis multi-instrumen selama 24 jam.

Pemantauan tersebut dipadukan dengan analisis dari PVMBG-Badan Geologi untuk menghasilkan informasi yang cepat, presisi, dan akurat mengenai perkembangan erupsi serta potensi dampaknya.

Koordinasi antarinstansi juga terus diperkuat untuk mendukung pengambilan keputusan, terutama dalam menjaga keselamatan penerbangan dan masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir Selat Sunda.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal dan beraktivitas di sepanjang pesisir Selat Sunda, meningkatkan kewaspadaan namun tetap tenang.

Masyarakat juga diminta menyaring informasi yang beredar dan tidak mudah terpengaruh maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Pembaruan kondisi Gunung Anak Krakatau dan dampaknya dapat dipantau melalui saluran komunikasi resmi BMKG, Badan Geologi/PVMBG, serta instansi pemerintah berwenang lainnya.

Editor : Ubaidillah
gunung anak krakatau erupsi Gunung Anak Krakatau abu vulkanik Gunung Anak Krakatau abu Gunung Anak Krakatau BMKG Gunung Anak Krakatau