Skill Petani Tembakau Bangkalan Terus Diasah, DP2KP Gandeng Praktisi dan BRMPTAS Malang

Hendriyanto • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 18:30 WIB
ANTUSIAS: DP2KP Bangkalan melakukan pelatihan pasca panen tembakau di Desa Neroh, Kecamatan Modung, Bangkalan pada Selasa (8/9).
ANTUSIAS: DP2KP Bangkalan melakukan pelatihan pasca panen tembakau di Desa Neroh, Kecamatan Modung, Bangkalan pada Selasa (8/9).

dari BRMPTAS Malang dan DPC APTI Pamekasan

BANGKALAN, RadarBangkalan.id– Upaya meningkatkan kualitas dan produktivitas petani tembakau di Kabupaten Bangkalan terus dilakukan.

Tak hanya dari sisi budidaya, pengetahuan petani terkait penanganan dan pengolahan pasca panen juga menjadi perhatian.

Hal itu dilakukan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Bangkalan melalui pelatihan pasca panen tembakau di Desa Neroh, Kecamatan Modung, Bangkalan pada Selasa (8/9).

Kegiatan tersebut menghadirkan praktisi tembakau serta tenaga ahli dari lembaga riset untuk memberikan pemahaman langsung kepada petani.

Pelatihan diikuti petani tembakau dari sejumlah kecamatan di Bangkalan. Mereka mendapat materi mulai dari karakteristik tembakau, budidaya, hingga pengolahan daun tembakau setelah panen agar memiliki nilai tambah.

Baca Juga: Support Petani Tembakau, DP2KP Bangkalan Salurkan Alsintan kepada 9 Poktan

Praktisi tembakau sekaligus Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Pamekasan dan Ketua I DPD APTI Jawa Timur, Samukrah, menjadi salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut.

Menurut dia, tembakau memiliki dua jenis utama, yakni tembakau Na-Oogst dan Voor-Oogst. Tembakau Voor Oogst merupakan jenis yang banyak dikembangkan di kawasan Madura.

Samukrah optimistis pengembangan komoditas tembakau di Bangkalan masih memiliki prospek yang menjanjikan. Terlebih, saat ini luasan lahan tembakau di Bangkalan terus berkembang.

“Saya yakin pengembangan tembakau di Bangkalan terus berkembang. Artinya, budidaya tembakau sebagai komoditas sangat menjanjikan. Kalau sudah pernah tanam, pasti akan berlanjut. Petani harus memahami budidaya sekaligus pasca panen agar hasilnya maksimal,” ujar Samukrah.

Dia menekankan, kemampuan petani tidak cukup hanya menguasai teknik budidaya. Penanganan pasca panen juga menjadi tahapan penting yang menentukan kualitas akhir tembakau.

Dengan pemahaman yang lebih baik, petani diharapkan mampu menghasilkan tembakau berkualitas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil panennya.

Materi pelatihan juga memperluas wawasan petani mengenai pemanfaatan tembakau. Hery Prabowo dari Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Pemanis dan Serat (BRMPTAS) Malang menjelaskan, daun tembakau tidak selalu harus berakhir sebagai bahan rajangan untuk rokok kretek maupun filter.

Baca Juga: Mengenal Pestisida Alami dari Tembakau sebagai Pengendali Hama

Menurut dia, tembakau juga berpotensi diolah menjadi bahan baku cerutu. Namun, pengolahan untuk cerutu membutuhkan karakteristik daun yang berbeda dan penanganan yang lebih spesifik.

“Daun tembakau harus lentur dan tidak tercemar karena langsung dihisap. Caranya, tulang daun ditekuk lalu dibuang. Setelah itu di binder atau diikat dengan daun pertama, diberi lem, kemudian dipres di dalam cegakan dan didiamkan semalam. Inilah proses dasar pembuatan cerutu,” paparnya.

Pengetahuan tersebut menjadi tambahan wawasan bagi petani Bangkalan. Sebab, pengembangan produk tembakau tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan mengolah hasil panen sesuai kebutuhan pasar.

Sementara itu, Plt Kepala DP2KP Bangkalan CHK Karyadinata menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan terhadap pengembangan komoditas tembakau.

Dia menyebut perkembangan tembakau di Bangkalan sekaligus menjadi bukti bahwa anggapan mengenai daerah tersebut tidak cocok untuk budidaya tembakau mulai terbantahkan.

“Hari ini kita melawan mitos. Bahwa Bangkalan tidak bisa ditanami tembakau. Buktinya Bangkalan sekarang sudah banyak luasan lahan tembakau,” tegasnya.

Menurut Karyadinata, peningkatan kapasitas petani menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan budidaya tembakau di Bangkalan.

Baca Juga: BMKG Pantau Abu Gunung Anak Krakatau 24 Jam, Sebarannya Capai Bengkulu

Karena itu, pelatihan dan pendampingan akan terus didorong agar petani semakin memahami teknik budidaya hingga pasca panen.

Dia berharap petani tidak kehilangan semangat untuk terus mengembangkan tembakau. Selain menjadi komoditas pertanian, tembakau dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

“Harapannya petani terus semangat berbudidaya tembakau. Ini bisa menjadi tonggak kebangkitan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (gik/dry)

Editor : Hendriyanto
pasca panen bangkalan rokok apti tembakau