BANGKALAN, RadarBangkalan.id – Budidaya tembakau di Kabupaten Bangkalan menunjukkan perkembangan signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Luasan lahan tembakau meningkat dari 16 hektare pada 2024 menjadi 30,5 hektare pada 2025 dan kembali bertambah hingga 45 hektare pada 2026.
Kenaikan tersebut menunjukkan tren positif pengembangan tembakau di Bangkalan. Dalam dua tahun, luas tanam bertambah 29 hektare atau hampir tiga kali lipat dibandingkan 2024.
Jika dilihat dari tahun ke tahun, pertumbuhan tersebut juga cukup mencolok. Pada 2025, luasan lahan bertambah 14,5 hektare dibandingkan 2024, kemudian kembali meningkat 14,5 hektare pada 2026.
Artinya, selama dua tahun berturut-turut terjadi tambahan luasan dengan angka yang sama, yakni 14,5 hektare. Tren tersebut menjadi sinyal bahwa minat petani untuk mencoba dan mengembangkan tanaman tembakau mulai tumbuh.
Baca Juga: Skill Petani Tembakau Bangkalan Terus Diasah, DP2KP Gandeng Praktisi dan BRMPTAS Malang
Geliat tersebut terlihat dalam panen raya tembakau di Desa Neroh, Kecamatan Modung, Selasa (8/9).
Panen raya itu dihadiri jajaran pejabat daerah serta kelompok petani tembakau dari sejumlah wilayah di Bangkalan.
Bagi Bangkalan, peningkatan luasan tersebut cukup berarti karena tembakau selama ini belum menjadi komoditas pertanian yang dominan.
Bahkan, pengembangan tanaman tersebut sempat dihadapkan pada anggapan bahwa kondisi wilayah Bangkalan kurang cocok untuk budidaya tembakau.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Bangkalan CHK Karyadinata mengatakan, perkembangan luasan tanam tersebut merupakan hasil proses yang dilakukan secara bertahap antara pemerintah dan petani.
Pria yang akrab disapa Pak Ce itu menyebut bertambahnya lahan tembakau menjadi bukti bahwa anggapan tersebut perlahan mulai terpatahkan.
Baca Juga: BMKG Pantau Abu Gunung Anak Krakatau 24 Jam, Sebarannya Capai Bengkulu
”Hari ini kita melawan mitos. Bangkalan ini bukan Madura karena tidak ada tembakau,” kata Karyadinata.
Dia menegaskan, peningkatan luasan lahan tidak terjadi secara instan. Masih terbatasnya jumlah petani yang menanam tembakau menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan komoditas tersebut.
Pemerintah, lanjut dia, terus memberikan stimulan sebagai bentuk dukungan. Harapannya, petani semakin berani mengembangkan tembakau sehingga luasan tanam dapat terus bertambah.
”Upaya yang sudah dilakukan bukanlah upaya ringan. Walaupun yang menanam tembakau sedikit, stimulan yang dibagikan dapat dipertanggungjawabkan. Ini bisa dilakukan kalau semuanya kompak,” tegasnya.
Data luasan lahan menunjukkan perkembangan yang konsisten dalam tiga tahun terakhir. Pada 2024, luas tanam tembakau masih 16 hektare, kemudian meningkat menjadi 30,5 hektare pada 2025 dan mencapai 45 hektare pada 2026.
Kenaikan luasan pada 2025 mencapai 14,5 hektare atau sekitar 90,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara pada 2026, luasan kembali bertambah 14,5 hektare atau sekitar 47,5 persen dibandingkan 2025.
Dengan demikian, dalam dua tahun luasan tembakau Bangkalan meningkat dari 16 menjadi 45 hektare. Total tambahan mencapai 29 hektare atau sekitar 181 persen dibandingkan luasan pada 2024.
Karyadinata berharap pertumbuhan tersebut tidak berhenti pada angka 45 hektare. Pengembangan tembakau harus terus dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi lahan, pola tanam, serta kemampuan petani.
Menurut dia, bertambahnya luasan lahan juga harus diikuti kemampuan petani memanfaatkan lahan secara optimal. Salah satunya melalui penerapan pola tanam berlapis.
Baca Juga: Support Petani Tembakau, DP2KP Bangkalan Salurkan Alsintan kepada 9 Poktan
”Kenapa petani susah sejahtera? Karena hanya menanam sekali setahun. Makanya saya sering sampaikan: banyak tanam, banyak jual,” ujarnya.
Dia mendorong petani mengatur komoditas berdasarkan musim. Dengan pola tersebut, satu lahan diharapkan bisa menghasilkan lebih dari satu kali panen dalam setahun.
”Pertama tanam padi, kedua padi, ketiga tembakau. Ini yang harus dikuasai betul,” jelasnya.
Karyadinata menilai, kenaikan luasan tembakau dalam tiga tahun terakhir harus dipertahankan. Jangan sampai pertumbuhan yang sudah terjadi hanya berlangsung sesaat, kemudian luasan kembali menyusut pada tahun berikutnya.
Panen raya di Desa Neroh, kata dia, merupakan hasil perjuangan panjang. Peningkatan dari 16 hektare pada 2024 menjadi 45 hektare pada 2026 menjadi modal penting untuk terus mengembangkan tembakau di Bangkalan.
”Apa yang kita lihat hari ini adalah perjuangan lama. Bangkalan bisa jadi petani tembakau. Semoga ke depan petani semakin sejahtera,” tuturnya.
Menurut dia, keberlanjutan pengembangan tembakau membutuhkan kekompakan. Pemerintah, petani, dan pihak terkait harus menjaga momentum tersebut agar komoditas tembakau semakin berkembang.
”Apa yang sudah kita perjuangkan harus kita pertahankan. Kami ucapkan terima kasih kepada semua petani,” katanya.
Karyadinata menambahkan, peningkatan luasan lahan bukan sekadar angka statistik. Di balik pertambahan tersebut terdapat keberanian petani untuk mencoba komoditas baru sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan.
Dia pun mengajak petani Bangkalan bangga dengan profesinya. Sebab, sektor pertanian memiliki peran penting dalam menopang perekonomian daerah.
”Mudah-mudahan petani menjadi petani ceria, keren, dan bangga menjadi petani. Ketika petani sejahtera, Bangkalan pasti maju. Tetap semangat!” pungkasnya. (gik/dry)
Editor : Hendriyanto