3.185 Mahasiswa Umsura Galang Bantuan untuk Perempuan dan Anak Korban Bencana NTT

Ubaidillah • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 05:36 WIB
Aksi ribuan maba Umsura mengangkat boneka, pembalut dan boneka bentuk kepedulian korban bencana anak dan perempuan NTT. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Aksi ribuan maba Umsura mengangkat boneka, pembalut dan boneka bentuk kepedulian korban bencana anak dan perempuan NTT. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)

 

RadarBangkalan.id - Sebanyak 3.185 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menggelar aksi mendukung perlindungan perempuan dan anak korban bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka mengangkat boneka, popok, dan pembalut sebagai simbol kebutuhan kelompok rentan yang kerap luput dalam penanganan bencana.

Ribuan boneka, popok, dan pembalut tersebut selanjutnya akan disalurkan kepada korban bencana di NTT melalui Lazismu Jawa Timur. Rektor Umsura Prof Mundakir juga melepas mahasiswa yang akan menjalankan tugas kemanusiaan sebagai relawan di NTT selama satu bulan.

Baca Juga: Penambang Emas Ilegal Tewas Tertimbun Longsor, Camat Pesanggaran Perkuat Pencegahan

Mahasiswa Umsura Dikirim Jadi Relawan di NTT

Prof Mundakir mengatakan Umsura membuka rekrutmen Aksi Mahasiswa Tanggap Bencana (Matana) untuk membantu penanganan bencana di NTT. Mahasiswa yang diberangkatkan berasal dari berbagai jurusan.

"Di Umsura memang membuka open recruitment Aksi Mahasiswa Tanggap Bencana (Matana) untuk NTT, jadi yang diberangkatkan nanti dari beragam jurusan dan tentu kegiatan ini akan dikonversikan sebagai agenda KKN," kata Prof Mundakir kepada wartawan di halaman kampus, Senin (14/9/2026).

Bencana di NTT menimbulkan dampak kemanusiaan dan kerusakan fisik dalam skala besar. Berdasarkan data yang menjadi rujukan dalam penanganan bencana tersebut, korban jiwa mencapai 136 orang, dengan 88 di antaranya meninggal dunia setelah sempat mendapatkan penanganan medis.

Baca Juga: Karhutla di Tulungagung Bakar 3 Hektare Lahan, Api Dekati Permukiman

Selain korban jiwa, sebanyak 102.384 unit rumah warga terdampak dengan tingkat kerusakan berat, sedang, hingga ringan.

Perempuan Punya Kebutuhan Khusus Saat Bencana

Prof Mundakir mengatakan perempuan dan anak termasuk kelompok yang memiliki kerentanan lebih tinggi dalam situasi bencana. Mereka memiliki kebutuhan dan risiko spesifik yang perlu mendapatkan perhatian dalam proses penanganan maupun pemulihan.

"Perempuan memiliki kebutuhan biologis yang tetap berlangsung dalam bencana. Menstruasi, kehamilan, persalinan, menyusui, dan kebutuhan kesehatan reproduksi tidak berhenti ketika terjadi bencana," ujarnya.

Menurutnya, kondisi darurat justru dapat menyulitkan pemenuhan kebutuhan tersebut. Keterbatasan akses terhadap air bersih, toilet, ruang privat, perlengkapan kebersihan, hingga layanan kesehatan dapat meningkatkan risiko kesehatan sekaligus mengurangi rasa aman dan martabat perempuan di lokasi pengungsian.

Baca Juga: Ear Seeds untuk Menurunkan Berat Badan, Benarkah Bisa Kurangi Nafsu Makan?

Karena itu, pembalut dan popok dinilai seharusnya menjadi bagian dari kebutuhan dasar dalam respons kebencanaan, bukan sekadar bantuan tambahan.

"Pembalut dan popok seharusnya masuk dalam bantuan dasar korban bencana, termasuk di NTT. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi menyangkut kesehatan, kebersihan, martabat, dan perlindungan kelompok rentan," ucapnya.

Boneka untuk Dukungan Psikososial Anak

Selain kebutuhan perempuan, Umsura juga memberikan perhatian terhadap kondisi anak-anak korban bencana. Bantuan boneka tidak hanya dimaksudkan sebagai mainan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari dukungan psikososial bagi anak yang mengalami situasi traumatis.

Anak-anak korban bencana tidak hanya kehilangan tempat tinggal. Mereka juga dapat kehilangan rutinitas, lingkungan bermain, sekolah, rasa aman, hingga benda-benda yang selama ini memberikan rasa nyaman.

"Dalam konteks psikologi kebencanaan, boneka dapat menjadi bagian dari dukungan psikososial. Boneka bisa menjadi media bagi anak untuk bercerita, bermain peran, memproyeksikan rasa takut atau marah, membuat cerita tentang bencana, atau sekadar memeluk ketika merasa cemas," jelasnya.

Baca Juga: Makan Wortel Bisa Cegah Mata Minus? Ini Penjelasan Dokter Mata

Menurut Mundakir, pendekatan bantuan kebencanaan perlu mempertimbangkan kebutuhan spesifik setiap kelompok korban, bukan hanya kebutuhan umum.

Perempuan, anak-anak, bayi, dan kelompok rentan lainnya dapat menghadapi persoalan berbeda selama berada di lokasi bencana maupun pengungsian. Karena itu, bantuan perlu disusun berdasarkan kebutuhan penerima, bukan semata-mata berdasarkan jenis barang yang paling mudah dikumpulkan.

Baca Juga: iPhone 18 Pro Max Resmi Hadir, Ini Bedanya dengan iPhone 17 Pro Max

"Perlindungan terhadap perempuan dan anak harus menjadi bagian dari setiap tahapan penanganan bencana, mulai dari kondisi darurat hingga proses pemulihan. Dalam situasi bencana, perempuan dan anak merupakan kelompok rentan yang harus mendapatkan perhatian khusus dalam setiap tahapan penanganan agar bantuan dan perlindungan dapat diberikan secara tepat sasaran," pungkasnya.

Editor : Ubaidillah
aksi kemanusiaan perlindungan perempuan bencana ntt bantuan bencana perlindungan anak