RadarBangkalan.id - Kekeringan mulai berdampak pada sejumlah wilayah di Jawa Timur. Di Kabupaten Ponorogo, lima desa di lima kecamatan mengalami kekurangan air bersih hingga September 2026. Kondisi tersebut berdampak pada 241 kepala keluarga atau 612 jiwa.
Kelima desa terdampak tersebar di Kecamatan Bungkal, Pulung, Sampung, Jambon, dan Slahung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo masih melakukan distribusi atau dropping air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.
Baca Juga: Muzakki Dicopot, Mahasiswa UINSA Tetap Segel Kampus hingga Rektor Definitif Ditetapkan
"Berdasarkan data BPBD Ponorogo, hingga September 2026, terdapat lima desa di lima kecamatan yang mengalami kekurangan air bersih," kata Masun, Senin (21/9/2026).
Kekeringan Tingkatkan Risiko Karhutla
Dampak musim kering tidak hanya dirasakan melalui keterbatasan air bersih. Kondisi vegetasi yang kering juga meningkatkan risiko bencana lain, salah satunya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kebakaran di kawasan pegunungan Kawi yang sebelumnya meluas ke sejumlah titik hingga Gunung Buthak dan lereng Kawinajang kini telah padam.
Namun, titik api di kawasan Gunung Pitrang, Kabupaten Blitar, masih dilaporkan membara pada Minggu (20/9/2026).
Baca Juga: Ambulans BPJS Watch Bawa Jenazah ke Sampang Diduga Dihalangi Oknum Satpol PP Surabaya
Kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat menghadapi kekeringan dan berbagai dampak yang menyertainya.
Baca Juga: Terjerat Utang Rp100 Juta dan Kena PHK, Pria Ini Curi 10 Motor di Mojokerto
Apa yang Harus Dilakukan Saat Kekeringan?
Ketika kekeringan menyebabkan pasokan air bersih berkurang, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus menghemat persediaan air.
1. Laporkan Kekurangan Air dan Minta Bantuan
Warga yang kesulitan mendapatkan air bersih dapat melapor kepada pemerintah daerah, BPBD, atau pihak berwenang setempat.
Laporan tersebut dapat menjadi dasar penanganan dan distribusi bantuan air bersih atau dropping air ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.
2. Gunakan Air Secara Bijak
Persediaan air yang tersedia perlu diprioritaskan untuk kebutuhan utama, seperti:
Baca Juga: 28 Siswa MI di Jember Keracunan Usai Santap MBG, Susu Kedelai Disorot
- Minum.
- Memasak.
- Mandi.
- Keperluan sanitasi.
Penggunaan air untuk kebutuhan yang tidak mendesak sebaiknya dikurangi selama kekeringan. Air yang masih layak digunakan juga dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan lain.
Baca Juga: BGN Pecat Karyawan SPPG yang Diduga Ejek Korban Keracunan MBG dari Karo
3. Patuhi Pembatasan Penggunaan Air
Apabila pemerintah daerah atau penyedia layanan air menerapkan pembatasan penggunaan air, masyarakat perlu mengikuti ketentuan tersebut.
Pembatasan dapat berupa pengaturan waktu penggunaan air maupun larangan menggunakan air untuk kegiatan tertentu.
4. Pantau Informasi Resmi
Masyarakat perlu mengikuti perkembangan kondisi kekeringan melalui sumber informasi resmi pemerintah, BPBD, radio, televisi, maupun media daring.
Informasi tersebut penting untuk mengetahui kondisi wilayah, ketersediaan bantuan air bersih, serta berbagai imbauan dan kebijakan terbaru selama kekeringan berlangsung.
Baca Juga: Pemuda Gresik Histeris Saat Digerebek Polisi, 15 Paket Sabu Ditemukan di Kos Surabaya
Baca Juga: Guru Yoga 103 Tahun Ungkap 5 Kebiasaan Sederhana yang Membuatnya Tetap Bugar
5. Ikuti Upaya Penanganan Kekeringan Pemerintah
Dalam kondisi tertentu, pemerintah dapat melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebagai salah satu upaya meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang membutuhkan.
Pelaksanaan TMC dilakukan oleh pihak berwenang dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan wilayah.
Baca Juga: 24 Daerah Jatim Darurat Kekeringan, Salat Istisqa' Mulai Digelar untuk Memohon Hujan
Upaya yang Bisa Dilakukan Setelah Kekeringan
Upaya menghadapi kekeringan juga perlu dilakukan dalam jangka panjang. Masyarakat dapat membantu meningkatkan ketersediaan air dengan membuat sumur resapan atau lubang biopori untuk membantu penyerapan air ke dalam tanah.
Pembangunan waduk atau bendungan juga dapat menjadi bagian dari upaya menyediakan tempat penampungan air hujan.
Di tingkat rumah tangga, penghematan air tetap penting dilakukan. Beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan antara lain memperbaiki kebocoran keran, menggunakan mesin cuci saat muatan penuh, mempersingkat waktu mandi, serta tidak membiarkan keran terus mengalir ketika air tidak diperlukan.
Baca Juga: Diabetes Tak Selalu Harus Minum Obat Seumur Hidup, Dokter Ungkap Peluang Remisinya
Dengan pengelolaan air yang lebih bijak dan mengikuti arahan pemerintah, masyarakat dapat membantu mengurangi dampak kekeringan sekaligus menjaga ketersediaan air untuk kebutuhan yang paling penting.
Editor : Ubaidillah