Balita 3 Tahun di Pamekasan Meninggal di ICU, Keluarga Ceritakan 5 Hari Menanti Rujukan

Ubaidillah • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 06:07 WIB
Ida Saidah (35) dan suaminya, Mustofa (43) orang tua balita di Tlanakan, Pamekasan yang meninggal karena menunggu rujukan RS. (Foto: Dok. Istimewa)
Ida Saidah (35) dan suaminya, Mustofa (43) orang tua balita di Tlanakan, Pamekasan yang meninggal karena menunggu rujukan RS. (Foto: Dok. Istimewa)

 

RadarBangkalan.id - Nasib pilu menimpa pasangan Ida Saidah (35) dan Mustofa (43), warga Desa Bandaran, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan. Anak ketiga mereka, Mohammad Gazal Al Farizki yang berusia 3 tahun, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUD Mohammad Noer Pamekasan pada Selasa (22/9/2026).

Sebelum meninggal dunia, Al Farizki sempat menjalani serangkaian pengobatan mulai dari perawatan di rumah, berobat ke bidan dan puskesmas, hingga akhirnya dirawat di rumah sakit.

Baca Juga: Pria Bratang Gede Surabaya Ditangkap, Pesan Sabu dari Bangkalan untuk Dijual

Menurut cerita Ida, keluarga juga sempat menunggu proses rujukan ke RSUD dr Soetomo Surabaya untuk menjalani pemeriksaan CT Scan otak. Berikut kronologi perjalanan pengobatan Al Farizki hingga akhirnya meninggal dunia.

1. Awalnya Dirawat Mandiri di Rumah

Saat pertama kali menunjukkan gejala sakit, Al Farizki sempat dirawat secara mandiri oleh ibunya di rumah.

Namun, kondisi sang anak tidak kunjung membaik. Ida kemudian membawa anak bungsunya tersebut untuk mendapatkan pemeriksaan medis, mulai dari bidan hingga klinik kesehatan setempat.

Baca Juga: Santri Difabel di Gresik Diduga Disetrika Senior hingga 2 Kali, Kini Trauma ke Ponpes

Baca Juga: Mantan Kepsek SMPN 18 Malang Dilaporkan ke Polisi atas Dugaan Kekerasan Siswa

2. Terkendala Pengurusan BPJS, Kemudian ke Puskesmas

Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang mengandalkan penghasilan Mustofa sebagai nelayan, Ida sempat mengurus kepesertaan BPJS agar anaknya dapat memperoleh pelayanan kesehatan tanpa biaya.

Namun, menurut Ida, proses administrasi tersebut membutuhkan waktu, sedangkan kondisi anaknya membutuhkan penanganan.

Baca Juga: Muzakki Dicopot, Mahasiswa UINSA Tetap Segel Kampus hingga Rektor Definitif Ditetapkan

"Saya sempat mengurus BPJS untuk mendapatkan pelayanan gratis, tapi harus menunggu lama, sementara anak sudah sakit," kata Ida Saidah, Minggu (27/9/2026).

Karena membutuhkan penanganan, Ida akhirnya membawa Al Farizki ke Puskesmas Bandaran menggunakan jalur pelayanan umum.

Dari hasil pemeriksaan awal, kondisi tubuh Al Farizki disebut masih normal.

3. Pulang dari Puskesmas dan Meminjam Uang untuk Berobat

Ida kemudian memutuskan membawa anaknya pulang karena khawatir biaya perawatan di puskesmas semakin besar.

Baca Juga: Ambulans BPJS Watch Bawa Jenazah ke Sampang Diduga Dihalangi Oknum Satpol PP Surabaya

"Karena di Puskesmas biaya kamar per hari Rp 300 ribu, itu pun belum biaya obat," tuturnya.

Untuk membiayai pemeriksaan umum dan tes laboratorium di luar puskesmas, Ida mengaku harus mencari pinjaman hingga terkumpul Rp550 ribu.

Setelah menjalani pemeriksaan, kondisi Al Farizki sempat menunjukkan tanda-tanda membaik ketika berada di rumah.

Baca Juga: Terjerat Utang Rp100 Juta dan Kena PHK, Pria Ini Curi 10 Motor di Mojokerto

Namun, kondisi fisiknya kembali memburuk.

4. Kondisi Memburuk dan Dirujuk ke RSUD Mohammad Noer

Melihat kondisi anak yang kembali menurun, keluarga kemudian diarahkan membawa Al Farizki ke RSUD Mohammad Noer Pamekasan.

Menurut keluarga, perawatan tersebut menggunakan fasilitas program Biakes Maskin atau Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin.

Al Farizki kemudian menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Baca Juga: Remaja 16 Tahun Ini Bisa Ingat Detail Hidup Sejak Usia 3 Bulan, Kok Bisa?

5. Kondisi Menurun hingga Masuk ICU

Baru satu hari menjalani perawatan di RSUD Mohammad Noer Pamekasan, kondisi kesehatan Al Farizki disebut terus menurun.

Balita tersebut kemudian harus dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif.

Baca Juga: Bukan Cuma Kurang Minum, Ini Kebiasaan yang Bisa Diam-diam Merusak Ginjal

Tim medis selanjutnya menyampaikan kepada keluarga bahwa Al Farizki perlu dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya untuk menjalani pemeriksaan CT Scan otak.

Pihak keluarga menyatakan setuju dengan rencana rujukan tersebut.

6. Keluarga Mengaku Menunggu Rujukan Selama Lima Hari

Menurut Ida, meski keluarga telah menyetujui rencana rujukan ke Surabaya, keberangkatan Al Farizki belum juga terlaksana.

Selama lima hari menjalani perawatan intensif di ruang ICU, keluarga juga mengaku tidak diperbolehkan mendampingi korban secara langsung.

Baca Juga: Diabetes Tak Selalu Harus Minum Obat Seumur Hidup, Dokter Ungkap Peluang Remisinya

Ida mengatakan dirinya berulang kali menanyakan perkembangan rencana rujukan kepada tim dokter.

"Saat itu, saya tanya terus ke dokter, tapi tak kunjung dirujuk. Alasannya belum ada informasi dari rumah sakit, juga bilang belum ada kamar," ungkap Ida.

Keterangan mengenai proses rujukan tersebut merupakan penuturan pihak keluarga. Penyebab keterlambatan dan proses administrasi rujukan perlu dikonfirmasi kepada pihak rumah sakit maupun pihak terkait.

7. Kondisi Kritis hingga Meninggal Dunia

Pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 08.00 WIB, keluarga dipanggil petugas rumah sakit dan diberi tahu bahwa kondisi Al Farizki sudah sangat kritis.

Ida kemudian diperbolehkan masuk ke ruang ICU ketika kondisi anaknya sudah memburuk. Beberapa jam kemudian, Al Farizki dinyatakan meninggal dunia.

"Sekitar pukul 12.30 WIB meninggal," tutur Ida dengan penuh kesedihan.

Kepergian anak ketiganya meninggalkan duka mendalam bagi Ida dan keluarga. Ia juga mengaku menyesal karena keterbatasan ekonomi membuat pilihan pengobatan keluarga menjadi terbatas.

"Seandainya saya punya uang, saya bawa ke mana pun tanpa menunggu dari rumah sakit. Selama itu, saya sudah mengikuti apa pun saran dari rumah sakit," ucapnya.

Ida juga menyampaikan kekhawatirannya mengenai penggunaan fasilitas Biakes Maskin dalam proses rujukan anaknya.

"Saya merasa, apa karena saya menggunakan Biakes Maskin (Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin), anak saya tidak segera dirujuk ke Surabaya," pungkas Ida.

Pernyataan tersebut merupakan dugaan dan perasaan yang disampaikan Ida sebagai pihak keluarga. Belum ada keterangan dari pihak RSUD Mohammad Noer Pamekasan dalam informasi yang diberikan mengenai alasan dan proses rujukan Al Farizki ke RSUD dr Soetomo Surabaya.

Editor : Ubaidillah
balita pamekasan rujukan rumah sakit balita meninggal pasien miskin pamekasan pamekasan