Warga Gali Tanah Urugan, 7 Sumur Jobong Peninggalan Majapahit Ditemukan di Nganjuk

Ubaidillah • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 06:51 WIB
Sumur Jobong Era Majapahit Ditemukan di Nganjuk. (Foto: Bakrie)
Sumur Jobong Era Majapahit Ditemukan di Nganjuk. (Foto: Bakrie)

 

RadarBangkalan.id - Sebanyak tujuh buah sumur jobong yang diperkirakan berasal dari era Majapahit ditemukan di tepi Sungai Brantas, Desa Tayang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Peninggalan bersejarah tersebut ditemukan warga saat menggali tanah urugan.

Temuan itu diketahui pada Senin (28/9/2026). Sehari kemudian, Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk bersama pemerintah desa dan Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kota Sejuk) mendatangi lokasi untuk melihat langsung temuan tersebut.

Baca Juga: Demi Biayai Judi Online, 2 Pemuda Tuban Bobol 13 Sekolah di Jatim-Jateng

 

Ketua Kota Sejuk, Amin Fuadi, menjelaskan tujuh sumur jobong itu ditemukan sekitar 15 meter dari bibir Sungai Brantas. Menariknya, beberapa jobong ditemukan dalam posisi berdampingan dengan jarak yang cukup dekat.

"Nah, yang unik ini ditemukan sumur jobong ini yang berdampingan ya. Jaraknya hanya 3 meter. Dan tumpukan dari jobongnya ini yang terlihat sudah terbongkar ini tiga, tiga tumpukan. Nah, yang belum terbongkar ini kemungkinan juga tiga. Karena mungkin relatif relatif dangkal airnya sehingga hanya tiga," terang Amin.

Tumpukan Jobong Biasanya Berjumlah Ganjil

Menurut Amin, tumpukan sumur jobong pada umumnya memiliki jumlah ganjil, mulai dari tiga hingga sembilan susunan.

Baca Juga: Jatanras Polda Jatim Bekuk 4 Maling Motor Matik, Total Beraksi 11 Kali

"Seperti di Megaluh itu rata-rata tujuh ke atas. Sedangkan di sini karena dekat dengan bibir sungai, sehingga jumlahnya enggak terlalu banyak," tambah Amin.

Baca Juga: 11 Siswa Keracunan MBG, SPPG Gowa Pattallassang Kembali Beroperasi

Amin menyampaikan jobong merupakan salah satu karakter peninggalan yang berkaitan dengan teknologi pada era Majapahit. Berdasarkan temuan yang diketahuinya, teknologi serupa belum terlihat pada peninggalan era Kediri.

"Karena teknologi jobong ini ada ya pada era Majapahit. Di era Kediri belum nampak jobong yang kami temukan. Jadi sementara memang dari bukti-bukti sejarah yang ada, jobong yang difungsikan sebagai saluran itu jobong juga. Itu adalah teknologinya Majapahit," bebernya.

Jobong Dibuat dari Tanah Liat yang Dibakar

Amin menjelaskan jobong dibuat dari tanah liat yang dibakar dan dicetak berbentuk bulat menyerupai bis beton. Bagian-bagian tersebut kemudian disusun hingga membentuk struktur sumur.

"Kalau sekarang ini, membuat sumur maupun septic tank kan menggunakan bis beton. Nah, jobong ini itu fungsinya hampir sama dengan bis beton itu. Berarti teknologi Majapahit pada saat itu sudah luar biasa. Mereka sudah mengenal teknik pembuatan sumur agar tidak rusak kualitas airnya. Jadi air yang masuk ke sumur itu harapannya sudah bersih ya, sudah bersih," ungkap Amin.

Sementara sebelum era Majapahit, masyarakat disebut lebih banyak menggunakan susunan bata yang dibuat melengkung. Alternatif lainnya adalah membuat galian langsung pada tanah, terutama apabila kondisi tanahnya berupa tanah liat.

Baca Juga: Balita 3 Tahun di Pamekasan Meninggal di ICU, Keluarga Ceritakan 5 Hari Menanti Rujukan

"Kalau era Majapahit, berarti kan sekitar 1200 ke atas hingga 1400. Nah, tapi persisnya kapan ini memang butuh kita uji lebih lanjut. Tapi perkiraan kami ini adalah semasa dengan wilayah di Banjarsari, kemudian Kelutan, itu kan juga area pemukiman kuno," tambah Amin.

Kondisi Sumur Jobong Sudah Pecah

Tujuh sumur jobong yang ditemukan di tepi Sungai Brantas tersebut saat ini dalam kondisi sudah pecah-pecah. Jobong yang ditemukan memiliki diameter sekitar 55 sentimeter, tinggi 27-32 sentimeter, dan ketebalan sekitar 3 sentimeter.

Baca Juga: Mantan Kepsek SMPN 18 Malang Dilaporkan ke Polisi atas Dugaan Kekerasan Siswa

Temuan tersebut selanjutnya akan diserahterimakan dari pihak pemerintah desa kepada Pemerintah Kabupaten Nganjuk untuk penanganan lebih lanjut.

Editor : Ubaidillah
sumur jobong majapahit nganjuk peninggalan sejarah