Kementerian Transmigrasi Tawarkan 3,1 Juta Hektare Lahan untuk Dikelola Pesantren

Ubaidillah • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 06:16 WIB
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi saat kunjungan ke Lamongan. (Foto: Istimewa)
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi saat kunjungan ke Lamongan. (Foto: Istimewa)

 

RadarBangkalan.id - Kementerian Transmigrasi membuka peluang kerja sama bagi pesantren dan jaringan alumninya untuk mengembangkan potensi ekonomi di kawasan transmigrasi. Aset tanah yang ditawarkan mencapai sekitar 3,1 juta hektare dan tersebar di 612 kawasan transmigrasi di luar Pulau Jawa dan Bali.

Tawaran tersebut disampaikan Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi saat menghadiri Seminar Nasional Persatuan Santri Alumni Sunan Drajat (Pessandra) di Hall Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan. Seminar itu mengangkat tema 'Membangun Kemandirian Santri Melalui Pemberdayaan Ekonomi Santri dan Transmigrasi'.

Baca Juga: Gudang Produk Impor Ilegal Dibongkar BPOM di Tangerang, 287 Item Disita

Viva Yoga mengatakan paradigma program transmigrasi saat ini telah mengalami perubahan. Menurutnya, transmigrasi tidak lagi hanya berorientasi pada pemindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain.

"Sekarang orientasi transmigrasi bukan untuk memindahkan penduduk, tetapi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di kawasan transmigrasi," kata Viva Yoga.

Ada 3,1 Juta Hektare Aset Tanah Transmigrasi

Viva Yoga mengungkapkan, Kementerian Transmigrasi memiliki aset tanah sekitar 3,1 juta hektare yang tersebar di 612 kawasan transmigrasi di luar Pulau Jawa dan Bali.

Baca Juga: Demi Biayai Judi Online, 2 Pemuda Tuban Bobol 13 Sekolah di Jatim-Jateng

Dari ratusan kawasan tersebut, sebanyak 154 kawasan ditetapkan sebagai lokasi prioritas nasional hingga 2029.

Baca Juga: Mantan Kepsek SMPN 18 Malang Dilaporkan ke Polisi atas Dugaan Kekerasan Siswa

Menurut Viva Yoga, pengembangan aset tersebut tidak harus dilakukan pemerintah sendiri. Kementerian membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga, termasuk pesantren, alumni pesantren, maupun korporasi yang memiliki kapasitas untuk mengembangkan usaha.

Salah satu skema kerja sama yang dapat ditempuh adalah melalui legalitas Izin Pelaksanaan Transmigrasi (IPT).

"Kalau dari santri mau berminat kerja sama dengan Kementerian Transmigrasi, sangat boleh," ujarnya.

Potensi Usaha Mulai Pertanian hingga Pariwisata

Viva Yoga menyebut sektor yang dapat dikembangkan di kawasan transmigrasi bergantung pada potensi masing-masing daerah. Sejumlah sektor yang dapat dikembangkan antara lain pertanian, perkebunan, peternakan, pertambangan hingga pariwisata.

"Mulai dari perkebunan, pertambangan, pertanian, peternakan hingga pariwisata. Kalau seluruh potensi dan produk unggulan di kawasan transmigrasi dipegang oleh para santri Pondok Pesantren Sunan Drajat, mantap itu," katanya.

Baca Juga: Jatanras Polda Jatim Bekuk 4 Maling Motor Matik, Total Beraksi 11 Kali

Menurut Viva Yoga, peluang ekonomi di kawasan transmigrasi cukup besar. Bahkan, sejumlah komoditas dari kawasan tersebut telah menembus pasar internasional.

Dia mencontohkan durian dari Sigi, Sulawesi Tengah, yang telah masuk pasar Asia Timur. Ada pula rajungan dari Maluku yang dipasarkan ke Amerika Serikat, pala dari Teluk Bintuni, Papua Barat, serta lada dari Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Baca Juga: 11 Siswa Keracunan MBG, SPPG Gowa Pattallassang Kembali Beroperasi

Potensi tersebut dinilai menunjukkan bahwa kawasan transmigrasi tidak hanya memiliki aset lahan, tetapi juga produk unggulan yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru.

Karena itu, Kementerian Transmigrasi membuka ruang bagi pesantren dan jaringan alumninya untuk ikut membangun ekosistem ekonomi di kawasan transmigrasi.

Sunan Drajat Siap Dorong Kemandirian Santri

Direktur Perekonomian Pondok Pesantren Sunan Drajat, Gus Anas Alhifni, menyambut positif peluang kerja sama tersebut. Menurutnya, Pondok Pesantren Sunan Drajat telah memiliki pengalaman mengembangkan sejumlah unit usaha.

Beberapa di antaranya bergerak di sektor pertanian, pengolahan garam industri, ritel hingga pariwisata.

Namun, Gus Anas menilai pengembangan ekonomi di kawasan transmigrasi tidak cukup hanya mengandalkan lahan dan modal. Kualitas sumber daya manusia, ilmu pengetahuan serta mentalitas juga menjadi faktor penting.

"Transmigrasi itu kaitannya dengan kemandirian. Berdiri tegak itu karena punya ilmu dan mental yang kuat," tutur Gus Anas.

Baca Juga: Balita 3 Tahun di Pamekasan Meninggal di ICU, Keluarga Ceritakan 5 Hari Menanti Rujukan

Dia juga mendorong para santri berani mengambil peluang ekonomi di berbagai daerah, termasuk kawasan transmigrasi.

Baca Juga: Santri Difabel di Gresik Diduga Disetrika Senior hingga 2 Kali, Kini Trauma ke Ponpes

"Kalau mentalnya sudah kuat dan tidak mudah menyerah, peluang bisnis sekecil apa pun di kawasan transmigrasi pasti bisa dioptimalkan untuk kemaslahatan masyarakat," katanya.

Santri Didorong Punya Mental Petarung

Kepala Dinas Tenaga Kerja Lamongan, Mokhammad Zamroni, turut mendorong para santri memiliki mental petarung di tengah persaingan ekonomi yang semakin terbuka.

Menurutnya, etos kerja, inovasi dan komitmen menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi persaingan.

"Harus menjadi petarung, punya komitmen dan tidak mudah putus asa. Persaingan sangat luar biasa. Kalau tidak memiliki etos kerja dan inovasi, komitmen kita akan tergilas," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Perencanaan Teknis Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi, Andi Wijaya, mengatakan program transmigrasi masih relevan dengan kebutuhan pembangunan Indonesia saat ini.

Baca Juga: Balita 3 Tahun di Pamekasan Meninggal di ICU, Keluarga Ceritakan 5 Hari Menanti Rujukan

Menurut Andi, pemerintah tengah melakukan transformasi pendekatan transmigrasi dengan menitikberatkan pada pembangunan kawasan dan penciptaan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

"Transmigrasi masih relevan untuk konteks hari ini. Ini merupakan reborn di pemerintahan sekarang," katanya.

Andi menjelaskan pemerintah mengembangkan konsep 5T, yakni Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusa dan Trans Gotong Royong.

Baca Juga: Remaja 16 Tahun Ini Bisa Ingat Detail Hidup Sejak Usia 3 Bulan, Kok Bisa?

Program tersebut diarahkan untuk menyelesaikan persoalan kawasan, memberdayakan masyarakat lokal, melibatkan generasi muda, mengembangkan ekonomi serta memperkuat kolaborasi berbagai pihak.

"Pesantren punya potensi itu," ujarnya.

Editor : Ubaidillah
transmigrasi wakil menteri transmigrasi pemberdayaan ekonomi pesantren