Radarbangkalan.id - Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSABM) Kota Surabaya mengebut pengerukan sedimentasi di saluran Simo Pomahan atau kawasan Simo Jawar. Pengerukan dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim hujan dan ditargetkan rampung maksimal akhir Oktober 2026.
Baca Juga: Residivis di Surabaya Ditangkap Bawa 17 Paket Sabu, Pemasok Jadi DPO
Pengerjaan saluran Simo Jawar tersebut menggunakan alat berat. Target penyelesaian dipercepat karena hujan berpotensi menghambat proses pengerukan dan pengangkatan sedimentasi di dalam saluran.
Kepala Rayon Tandes Bidang Drainase DSABM Surabaya, Marvin Novianto, mengatakan pengerjaan tidak hanya berpatokan pada jadwal proyek. Petugas juga harus menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi cuaca karena hujan dapat membuat proses pengerukan terhenti.
"Kalau secara jadwal sendiri, di pelaksanaan kami, maksimal itu kita nanti sampai akhir Oktober sebelum musim hujan," kata Marvin pada (01/10/2026).
Pengerukan Saluran Simo Jawar Kejar Musim Hujan
Menurut Marvin, pengerukan sedimentasi di saluran Simo Pomahan atau Simo Jawar dilakukan untuk mengantisipasi datangnya hujan. Kondisi saluran yang sedang dikeruk membuat pekerjaan alat berat membutuhkan kondisi yang memungkinkan agar sedimentasi dapat diangkat secara maksimal.
Baca Juga: Demi Biayai Judi Online, 2 Pemuda Tuban Bobol 13 Sekolah di Jatim-Jateng
"Jadi kalau pekerja pengurusan saluran di Simo Pomahan atau Simo Jawar itu yang kerja itu satgas, alat beratnya juga alat tempot sendiri. Jadi terkait jangka waktu pekerjaan, lebih kita ke ini, kejar-kejaran dengan hujan," ujarnya.
Pengerukan dilakukan hingga mencapai bagian dasar saluran. Saluran tersebut disebut telah bertahun-tahun belum mendapatkan pengerukan hingga dasar.
Baca Juga: Bilik di Pamekasan Diduga Jadi Tempat Transaksi Sabu, Polisi Temukan 15 Bong
Berdasarkan keterangan pekerja di lokasi, sedimentasi yang menumpuk di dalam saluran diperkirakan telah ada sejak sekitar 2011-2012.
Sedimentasi Bercampur Lumpur, Excavator Berisiko Ambles
Pekerja excavator mini, M Syaiful, mengatakan pengerukan dilakukan sampai mencapai dasar saluran. Namun, material sedimentasi yang bercampur lumpur membuat alat berat membutuhkan pijakan agar dapat bergerak di dalam saluran.
"Perfektor sedimennya kan campur lumpur, jadi kalau dilewati excavator rawan ambles. Makanya dikasih rantingan ini supaya bisa buat jalan buat alasnya," ujarnya.
Rantingan digunakan sebagai alas untuk membantu alat berat bergerak di area yang memiliki kondisi tanah berlumpur. Cara tersebut dilakukan agar excavator dapat menjalankan proses pengerukan dengan lebih aman.
Baca Juga: Gudang Produk Impor Ilegal Dibongkar BPOM di Tangerang, 287 Item Disita
Baca Juga: Kementerian Transmigrasi Tawarkan 3,1 Juta Hektare Lahan untuk Dikelola Pesantren
Pengerukan Saluran Juga Waspadai Kabel dan Pipa
Selain kondisi tanah, petugas juga harus memperhatikan keberadaan utilitas yang melintas di sekitar saluran. Posisi kabel dan utilitas lain perlu diketahui sebelum alat berat bekerja untuk mencegah kerusakan.
Syaiful mengatakan pengerukan sedimentasi berpotensi mengenai kabel optik maupun pipa air apabila posisi utilitas tidak diketahui.Baca Juga: BPOM Temukan 26 Produk Kosmetik Berbahaya, Mengandung Merkuri hingga Hidrokuinon
"Kalau mengerjakan pengerukan sedimen kali begini tuh rawan kena kabel optik sama pipa air, tapi kalau yang di sini nggak ada, kecuali kabel untuk lampu penyeberangan zebra cross yang di atas." katanya
Dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, medan berlumpur, serta keberadaan utilitas, pengerukan saluran Simo Jawar ditargetkan selesai maksimal akhir Oktober 2026 sebelum hujan menghambat pekerjaan.
Editor : Ubaidillah