Radarbangkalan.id - Jawa Timur memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, termasuk busana adat dari berbagai daerah. Salah satunya adalah baju adat Madura yang menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Madura.
Baju adat Madura memiliki karakter visual yang khas, mulai dari baju Pesa'an untuk pria, kebaya rancongan untuk perempuan, hingga odheng sebagai penutup kepala tradisional. Setiap pakaian dan aksesori yang digunakan juga memiliki nilai serta makna budaya tersendiri.
Baca Juga: 3 Anggota DPRD Gerindra Jatim Terseret Kasus Narkoba, Pengamat Desak Dipecat
Apa Itu Baju Adat Madura?
Baju adat Madura merupakan pakaian tradisional masyarakat Pulau Madura, Jawa Timur, yang menjadi salah satu identitas visual dalam kekayaan budaya Nusantara.
Pakaian tradisional ini dikenal dengan karakter yang tegas dan praktis. Sejumlah unsur di dalamnya juga berkaitan dengan nilai keberanian, kebebasan, kerja keras, serta karakter masyarakat Madura.
Tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, setiap kain, warna, motif, dan aksesori yang digunakan memiliki makna filosofis.
Perpaduan garis tegas, kain beludru, serta batik dengan warna-warna cerah menjadi bagian dari karakter busana Madura. Bentuknya pun beragam, mulai dari Pesa'an yang sederhana dan fungsional hingga baju Mantenan yang lebih mewah dan anggun.
Baca Juga: Wanita di Gresik Diduga Bacok Tunangan hingga Tewas, Lalu Telepon 110
5 Ciri Khas Baju Adat Madura
Ciri khas baju adat Madura dapat dikenali melalui model pakaian, warna, motif, hingga aksesori yang digunakan. Berikut beberapa unsur yang melekat pada busana tradisional masyarakat Madura.
Baca Juga: Residivis di Surabaya Ditangkap Bawa 17 Paket Sabu, Pemasok Jadi DPO
1. Baju Pesa'an
Pakaian adat Madura untuk laki-laki dikenal dengan nama baju Pesa'an. Busana ini juga sering disebut sebagai "baju tukang sate" karena identik dengan penjual sate Madura.
Baju Pesa'an memiliki desain sederhana dan longgar sehingga nyaman digunakan untuk berbagai aktivitas. Pakaian ini umumnya berwarna hitam dengan ukuran yang cukup longgar.
Dalam pemakaiannya, baju Pesa'an biasanya dipadukan dengan kaus bergaris merah putih atau merah hitam. Untuk bagian bawah, digunakan celana longgar yang disebut gomboran.
Celana gomboran umumnya memiliki panjang antara lutut dan mata kaki atau hingga mata kaki.
Baca Juga: Demi Biayai Judi Online, 2 Pemuda Tuban Bobol 13 Sekolah di Jatim-Jateng
Baca Juga: Bilik di Pamekasan Diduga Jadi Tempat Transaksi Sabu, Polisi Temukan 15 Bong
2. Aksesori Busana Adat Pria Madura
Aksesori menjadi bagian penting dalam busana adat pria Madura. Selain melengkapi penampilan, berbagai aksesori tersebut memiliki nilai filosofis.
Baca Juga: Bilik di Pamekasan Diduga Jadi Tempat Transaksi Sabu, Polisi Temukan 15 Bong
Salah satu pelengkap utama adalah odheng, yaitu penutup kepala tradisional berbahan kain. Pria Madura juga dapat mengenakan sabuk katemang, sarung bermotif kotak-kotak, serta alas kaki trompa.
Dalam kelengkapan tradisionalnya, celurit atau sabit juga menjadi salah satu simbol yang kerap dikaitkan dengan masyarakat Madura.
3. Odheng Khas Madura
Odheng merupakan penutup kepala berbahan kain batik yang menjadi bagian penting dalam pakaian adat pria Madura.
Berdasarkan bentuk dan ukurannya, odheng terbagi menjadi dua jenis, yakni odheng peredhan yang berukuran besar dan odheng tongkosan yang berukuran lebih kecil.
Odheng juga memiliki beragam motif, seperti modang, garik (jingga), dul-cendul, storjan, hingga bere' songay (toh biru).
Baca Juga: Gudang Produk Impor Ilegal Dibongkar BPOM di Tangerang, 287 Item Disita
Selain bentuk dan motif, cara mengikat odheng juga memiliki makna spiritual. Pelintiran ujung simpul belakang yang tegak lurus pada odheng peredhan melambangkan huruf alif, yaitu huruf pertama dalam abjad Arab.
Sementara itu, simpul mati pada bagian belakang odheng tongkosan dibentuk menyerupai rangkaian huruf alif-lam. Bentuk tersebut menjadi simbol ketauhidan atau pengakuan atas keesaan Allah SWT.
Baca Juga: Kementerian Transmigrasi Tawarkan 3,1 Juta Hektare Lahan untuk Dikelola Pesantren
4. Pakaian Adat Wanita Madura
Pakaian adat Madura untuk perempuan dikenal dengan sebutan kebaya rancongan dan baju aghungan.
Kebaya rancongan sekilas menyerupai kebaya pada umumnya, tetapi dibuat mengikuti lekuk tubuh. Busana ini memiliki lengan panjang dan biasanya dipadukan dengan stagen atau odhet yang dililitkan pada bagian perut.
Salah satu ciri khas kebaya rancongan adalah penggunaan warna-warna cerah dan mencolok, seperti hijau, biru, atau merah.
Untuk bagian bawah, kebaya tersebut dipadukan dengan kain sarung batik yang memiliki beragam motif khas, antara lain lasem, storjan, dan tabiruan.
5. Aksesori Pakaian Adat Wanita Madura
Perempuan Madura juga menggunakan berbagai aksesori ketika mengenakan busana adat. Aksesori tersebut tidak hanya memperindah penampilan, tetapi menjadi bagian dari karakter pakaian tradisional Madura.
Kebaya rancongan biasanya dilengkapi hiasan rambut berbahan emas, seperti cucuk sisir dan cucuk dinar.
Selain itu, terdapat kalung brodong, yakni kalung emas dengan rangkaian yang bentuknya menyerupai biji jagung.
Pada bagian telinga, perempuan mengenakan shelter penthol berupa giwang berbahan emas. Sementara itu, bagian dada dihiasi ornamen emas berbentuk perahu dengan tiga tingkatan.
Baca Juga: Kementerian Transmigrasi Tawarkan 3,1 Juta Hektare Lahan untuk Dikelola PesantrenBaca Juga: Kementerian Transmigrasi Tawarkan 3,1 Juta Hektare Lahan untuk Dikelola Pesantren
Baju Adat Madura Sarat Makna Budaya
Perpaduan antara kesederhanaan baju Pesa'an, keanggunan kebaya rancongan, serta makna spiritual pada odheng dan berbagai aksesori menunjukkan bahwa baju adat Madura bukan sekadar pakaian.
Setiap elemen di dalamnya menjadi bagian dari warisan budaya yang mencerminkan identitas, nilai kehidupan, serta karakter masyarakat Madura.
Melestarikan dan mengenalkan busana tradisional Madura menjadi salah satu cara untuk menjaga kekayaan budaya Nusantara agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor : Ubaidillah