Radarbangkalan.id - Phonophobia adalah kondisi di mana seseorang memiliki rasa takut berlebih terhadap suara keras.
Rasa terkejut saat mendengar suara keras memang hal yang umum, tetapi bagi penderita phonophobia,
Baca Juga: Yuk Temukan Pesona Wisata Tana Toraja yang Magis dan Mistis
hal ini bisa menyebabkan rasa panik dan kecemasan yang berlebihan. Apa yang menyebabkan kondisi ini dan bagaimana cara mengatasinya? Mari kita bahas lebih lanjut.
Apa itu Phonophobia?
Phonophobia adalah jenis fobia spesifik yang ditandai dengan rasa takut berlebih terhadap suara yang keras.
Orang dengan phonophobia merasa tertekan atau cemas ketika dihadapkan pada suara keras, terutama jika suara tersebut muncul secara tak terduga.
Beberapa jenis suara yang sering ditakuti oleh penderita phonophobia antara lain petir, klakson mobil, teriakan, dan suara ledakan.
Penyebab Phonophobia
Penyebab pasti phonophobia belum diketahui secara pasti, namun faktor genetik dan pengalaman trauma masa lalu mungkin berperan dalam timbulnya kondisi ini.
Anak-anak dengan autisme atau ADHD juga rentan terhadap phonophobia. Beberapa kondisi lain seperti migrain, sindrom Kleine-Levin, dan cedera otak traumatis juga dapat menjadi penyebab phonophobia.
Gejala Phonophobia
Penderita phonophobia tidak mengalami gangguan pendengaran, tetapi mereka merasa takut akan suara keras,
terutama jika muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini sering disertai dengan gejala kecemasan seperti berkeringat,
sesak napas, peningkatan denyut jantung, dan mual. Penting untuk membedakan phonophobia dengan kondisi lain seperti hyperacusis dan misophonia.
Cara Mengatasi Phonophobia
Phonophobia bisa diatasi dengan berbagai metode pengobatan, termasuk psikoterapi dan pemberian obat-obatan.
Terapi paparan dan terapi perilaku kognitif adalah dua pendekatan yang umum digunakan dalam mengatasi fobia suara keras.
Baca Juga: Manfaat Sayur Bayam untuk Hidangan Sahur, Ternyata Bagus untuk Kesehatan Mata
Selain itu, teknik relaksasi seperti meditasi juga dapat membantu mengurangi gejala phonophobia.
Dalam beberapa kasus, pemberian obat-obatan seperti obat anticemas juga diperlukan untuk mengurangi gejala.
Editor : Ubaidillah