Radarbangkalan.id – Kacang mede goreng dan kacang mede madu adalah hidangan yang jarang absen dari meja saat menyambut tamu di Hari Lebaran.
Kelezatannya melengkapi kegembiraan setiap orang dalam suasana fitri itu, Tidak hanya itu, kacang mede juga ternyata memiliki sejumlah manfaat luar biasa bagi kesehatan.
Sejarah penggunaannya untuk kesehatan telah tercatat selama berabad-abad, termasuk dalam pengobatan gangguan jantung dan diabetes.
Profesor Doktor Apoteker Mangestuti Agil MS, seorang Guru Besar dalam bidang Botani Farmasi dan Farmakognosi di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, memaparkan bahwa kacang mede dikenal luas sebagai camilan yang lezat, namun tidak semua orang menyadari keistimewaannya sebagai salah satu kacang yang paling sehat.
Keunikan ini terkait dengan kandungan nutrisi yang dimilikinya, seperti serat, lemak sehat, vitamin, dan mineral.
Dalam tradisi pengobatan India Ayurveda, kacang mede menjadi bagian integral dari diet vegetarian.
Salah satu aplikasinya adalah dalam pembuatan minuman susu yang diyakini memberikan energi dan kehangatan bagi tubuh.
Kacang mede mengandung tepung yang berperan sebagai pengental dalam minuman susu tersebut.
Tanaman ini berasal dari keluarga Anacardiaceae dan memiliki nama ilmiah Anacardium occidentale. Meskipun asalnya dari Brasil, kacang mede tumbuh di berbagai wilayah tropis di Amerika Selatan, Asia, dan Afrika.
Pohonnya memiliki tinggi sedang sekitar 3 meter, dengan bunga berwarna merah muda hingga merah gelap.
Dalam bahasa Inggris, kacang mede dikenal sebagai cashew nuts, yang termasuk dalam kelompok tree nuts bersama dengan almond, hazelnut, dan macadamia.
Meskipun sering disebut kacang mede atau kacang mente, bagian yang dimakan sebenarnya adalah buahnya, bukan kacang.
Buah ini memiliki bentuk seperti ginjal dengan penutup keras yang melindungi bijinya di dalam.
Sementara itu, buah mede yang lebih lunak dan bulat adalah bagian palsu yang tidak terbentuk dari indung telur bunga.
Kacang mede kaya akan protein nabati, serat, dan berbagai mineral seperti tembaga, seng, magnesium, kalium, kalsium, natrium, fosfor, mangan, zat besi, dan selenium.
Vitamin yang terkandung di dalamnya antara lain vitamin K, B1, B6, B5, vitamin E, dan folat.
Kandungan fitonutrienya meliputi senyawa sterol dan fenolik.
Dengan kandungan protein sebesar 21% dan lemak sebesar 46%, kacang mede termasuk makanan tinggi protein dan lemak.
Mayoritas karbohidratnya berbentuk serat yang tidak dapat dicerna, sehingga membantu dalam proses pencernaan dan pengeluaran sisa makanan dari tubuh.
Meskipun mengandung lemak, kacang mede memiliki jenis lemak sehat, seperti 62% asam lemak tak jenuh tunggal yang mengandung asam oleat dan 18% asam lemak tak jenuh ganda, terutama asam linoleat.
Khasiat lemak tersebut telah terbukti dalam penelitian untuk menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, dan obesitas.
Sebagai contoh, dengan asumsi konsumsi kalori sebanyak 2.000 per hari, 28 gram kacang mede ukuran sedang mengandung sekitar 157 kalori, 4,3 gram protein, 74 mg magnesium (sama dengan 19% kebutuhan harian tubuh), dan 160 mg kalium (memenuhi 5% kebutuhan harian tubuh).
Meskipun beberapa orang mungkin mengkhawatirkan kandungan lemaknya, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa sebagian besar lemak jenuh dalam kacang mede tidak memiliki efek buruk terhadap konsentrasi kolesterol jahat dalam darah.
Studi mengenai pengaruh kacang mede terhadap profil lemak dan tekanan darah masih dalam tahap pengembangan, meskipun beberapa penelitian menunjukkan adanya penurunan tekanan darah sistolik.
Tekanan darah sistolik, yang merupakan tekanan pada dinding pembuluh darah arteri saat jantung berkontraksi, memiliki hubungan dengan risiko serangan stroke dan penyakit jantung.
Meskipun demikian, belum ada rekomendasi yang pasti mengenai penggunaan kacang mede dalam diet untuk tujuan tersebut.
Dalam upaya mencegah kerusakan saraf otak akibat pengobatan kanker, kacang mede menjadi salah satu suplemen alami yang diuji coba.
Sebuah artikel jurnal pada tahun 2022 mengungkapkan percobaan pemberian kacang mede panggang kepada tikus yang mengalami kerusakan otak akibat terapi dengan cisplatin, sejenis obat antikanker.
Hasil percobaan tersebut menunjukkan penurunan aktivitas antioksidan yang mengakibatkan kerusakan sel otak akibat radikal bebas yang dihasilkan oleh pengaruh cisplatin.
Kandungan antioksidan dalam kacang mede bekerja untuk menetralkan radikal bebas tersebut, yang berpotensi memperbaiki penghantaran pesan kimia antara sel otak dan bagian tubuh lainnya.
Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan efektivitas kacang mede dalam mencegah kerusakan saraf otak ini. ***