News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Ancaman Gula Berlebih pada Anak: IDAI Desak Label Jelas dan Tips Cegah Diabetes

Azril Arham • Rabu, 27 November 2024 | 22:12 WIB
Ilustrasi Makanan Tinggi Gula
Ilustrasi Makanan Tinggi Gula

RadarBangkalan.id - Kasus diabetes pada anak di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

Menurut data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), jumlah anak yang didiagnosis diabetes melonjak hingga 70 kali lipat pada tahun 2022 dibandingkan satu dekade sebelumnya.

Fakta ini menyoroti ancaman serius dari konsumsi gula berlebih, terutama di kalangan anak-anak yang gaya hidupnya semakin tidak sehat.

Ketua IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), menyampaikan kekhawatirannya terkait maraknya produk makanan dan minuman tinggi gula yang beredar bebas di pasaran tanpa pengawasan ketat.

Menurutnya, pemerintah perlu mengambil langkah tegas untuk melindungi generasi muda dari dampak buruk gula berlebih, sebagaimana yang telah dilakukan terhadap rokok.

"Saya kira sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian, sebagaimana pada bahaya rokok, terhadap bahaya gula ini," ujar dr. Piprim dalam konferensi media daring, Selasa (26/11/2024).

Selama ini, masyarakat cenderung meremehkan bahaya gula dibandingkan dengan zat adiktif lainnya seperti nikotin dalam rokok.

Padahal, konsumsi gula yang berlebihan dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari obesitas hingga penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal.

Yang lebih mengkhawatirkan, banyak anak yang menjadi ketergantungan pada gula. Efeknya tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga pada perilaku mereka.

Anak-anak yang sering mengonsumsi makanan dan minuman manis cenderung mengalami:

- Perubahan suasana hati yang drastis.
- Tantrum atau ledakan emosi.
- Kelaparan yang muncul tiba-tiba karena kadar gula darah yang naik turun secara cepat.

"Anak-anak yang terus-menerus mengonsumsi gula akhirnya terjebak dalam lingkaran setan: adiksi, over-nutrisi, over-kalori, dan pada akhirnya menderita PTM," jelas dr. Piprim.

Salah satu solusi yang diusulkan IDAI adalah memperbaiki label kandungan gula pada produk makanan dan minuman, khususnya yang ditargetkan untuk anak-anak.

Label tersebut sebaiknya disajikan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami masyarakat umum, seperti takaran dalam sendok makan gula.

"Misalnya, jika sebuah minuman mengandung kadar gula yang tinggi, labelnya harus menjelaskan berapa sendok gula pasir yang setara dengan kandungan tersebut," tambah dr. Piprim.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran orang tua terhadap jumlah gula yang dikonsumsi anak-anak mereka setiap hari.

Selain pemerintah, peran orang tua juga sangat penting dalam mengontrol asupan gula anak-anak.

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengurangi konsumsi gula pada anak:

1. Batasi makanan dan minuman manis di rumah, seperti soda, jus kemasan, dan permen.
2. Baca label nutrisi sebelum membeli produk makanan dan minuman.
3. Berikan camilan sehat seperti buah segar, yogurt tanpa tambahan gula, atau kacang-kacangan.
4. Ganti minuman manis dengan air putih atau jus buah segar tanpa tambahan gula.
5. Ajarkan anak pentingnya makanan sehat dan bagaimana gula berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mereka.

Peningkatan kasus diabetes pada anak merupakan alarm serius yang perlu segera ditangani. Konsumsi gula berlebih tidak lagi bisa dianggap remeh.

Pemerintah, industri, dan orang tua harus bekerja sama untuk mengurangi risiko ini dengan memberikan edukasi, pengawasan ketat, serta peraturan yang jelas mengenai konsumsi gula. ***

 

Editor : Azril Arham
#makanan tinggi gula #diabetes pada anak #minuman tinggi gula #kadar gula darah #penyakit diabetes #diabetes #idai #diabetes pada anak meningkat