RadarBangkalan.id – Bagi sebagian orang, kue apem mungkin hanya dianggap sebagai pelengkap nampan jajanan pasar atau sekadar teman minum teh di sore hari.
Namun, kue berbahan dasar tepung beras dan tape singkong ini memiliki sejarah yang jauh lebih "berisi" daripada teksturnya yang membal.
Apem bukan hanya soal rasa, melainkan soal cara manusia berkomunikasi dengan Sang Pencipta dan sesamanya.
Secara etimologi, kata "Apem" diyakini berasal dari bahasa Arab, yakni Afuan atau Afuwwun, yang berarti pengampunan atau maaf.
Di tanah Jawa, para wali menggunakan kue ini sebagai media dakwah yang halus. Menyuguhkan atau membagikan apem adalah simbol fisik dari permohonan ampun atas segala kesalahan. Sebuah diplomasi kuliner yang mengajarkan kerendahan hati.
Masuk ke ranah tradisi tentang kue ini, di Jatinom, Klaten. Bermula dari kisah Ki Ageng Gribig yang membawa oleh-oleh kue dari tanah suci namun jumlahnya tidak mencukupi untuk seluruh warga.
Akhirnya, ia meminta istrinya membuatkan kue serupa dalam jumlah banyak untuk dibagikan. Di sini, apem bertransformasi dari sekadar makanan menjadi simbol pemerataan dan semangat berbagi tanpa sekat sosial.
Secara teknis, penggunaan tape singkong atau nira kelapa sebagai bahan pengembang alami pada apem bukan tanpa alasan.
Proses fermentasi ini melambangkan kesabaran. Tanpa waktu tunggu yang pas, apem tidak akan merekah sempurna.
Ini adalah pengingat bagi masyarakat modern yang serba instan bahwa sesuatu yang baik termasuk karakter manusia membutuhkan proses "pendiaman" dan pematangan yang cukup.
Di tengah gempuran pastry modern yang penuh mentega dan keju, kue apem tetap memiliki tempat yang tak tergoyahkan.
Baca Juga: Panduan Lengkap Cek Bansos Kemensos 2026, Ini Jenis dan Besaran Bantuan
Ia bukan lagi sekadar hidangan dalam ritual kematian atau syukuran, melainkan identitas kuliner yang tetap eksis di sela-sela gempuran makanan kekinian. (Athoya Hanin)
Editor : Ina Herdiyana