News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Nastar: Mengapa Selalu Jadi Hidangan Andalan di Hari Raya?

Ina Herdiyana • Senin, 6 April 2026 | 13:08 WIB
Nastar. Sumber Foto: Backing World
Nastar. Sumber Foto: Backing World

RadarBangkalan.id Nastar merupakan kependekan dari bahasa Belanda, yaitu Ananas (nanas) dan Taartjes (tart kecil).

Kehadiran kue ini bermula dari upaya warga Belanda di masa kolonial yang ingin mereplikasi resep tart buah khas Eropa. 

Bagi banyak keluarga, kehadiran nastar bukan sekadar pelengkap hidangan. Di balik warnanya yang kuning mengkilap, nastar sering diasosiasikan dengan kemakmuran dan keberuntungan.

Baca Juga: Manis dan Lembut, Ubi Cilembu Kini Jadi Gaya Hidup Baru Pencinta Healthy Food

Nastar dianggap bukan sekadar kue kering. Di Indonesia, kehadirannya telah menjadi simbol kultural yang menandakan bahwa hari raya telah tiba.

Nastar memiliki karakteristik dengan rasa melt-in-the-mouth. Saat dinikmati, kulitnya hancur perlahan dan disambut selai nanas yang legit dan sedikit berserat. 

Efek mengkilap di bagian atas yang didapat dari olesan kuning telur menjadi daya tarik utama.

Tak heran, menjelang hari raya, harga mentega berkualitas tinggi seringkali melonjak demi mengejar aroma milky dan tekstur lumer yang otentik.

Baca Juga: 4 Alasan Frozen Food Bisa Tidak Halal dan Tips Memilih yang Aman untuk Muslim

Nastar menjadi bukti nyata bahwa kuliner adalah sesuatu yang dinamis. Ia terus berevolusi, mulai dari bentuk bulat klasik hingga kini muncul variasi dengan topping keju atau isian modern lainnya. 

Meski begitu, nilai utamanya tetap sama yakni sebagai simbol kehangatan dan penyambung silaturahmi di setiap momen berharga terutama di hari raya. (Farah Arisanti)

 

Editor : Ina Herdiyana
#kue kering #belanda #hidangan #hari raya #nastar