RadarBangkalan.id – Pickles atau acar adalah hasil dari teknik pengawetan makanan tertua di dunia yang memanfaatkan larutan asam untuk mengubah tekstur dan rasa bahan pangan.
Meskipun identik dengan mentimun, tapi hampir semua jenis sayuran, buah-buahan, bahkan protein dapat diolah menjadi pickles untuk memperpanjang masa simpan sekaligus menciptakan profil rasa yang baru.
Pembuatan pickles umumnya dilakukan melalui dua metode utama, yaitu perendaman dalam larutan vinegar atau melalui proses fermentasi alami. Ini adalah metode yang paling umum dalam industri modern.
Baca Juga: Bologna vs Aston Villa 1-3: Wakil Serie A Tumbang, Villa Dekat ke Semifinal
Bahan makanan direndam dalam campuran air, cuka, garam, dan gula. Asam asetat dalam cuka bertindak sebagai pengawet dengan menurunkan tingkat pH hingga bakteri pembusuk tidak dapat bertahan hidup.
Metode ini menghasilkan rasa asam yang tajam dan tekstur yang sangat renyah dalam waktu singkat. Dalam metode tradisional, pickles dibuat hanya dengan air dan garam.
Garam memicu pertumbuhan bakteri Lactobacillus yang secara alami memecah gula dalam sayuran menjadi asam laktat. Selain memberikan rasa asam yang lebih kompleks dan dalam, proses ini juga menghasilkan probiotik yang bermanfaat bagi kesehatan sistem pencernaan manusia.
Setiap budaya memiliki ciri khasnya sendiri dalam meramu pickles. Di Amerika Utara, dill pickles yang dibumbui tanaman adas sangat populer sebagai pelengkap burger.
Baca Juga: Rekap Liga Europa: Freiburg Hancurkan Celta, Villa Tumbangkan Bologna
Di India, acar dibuat dengan campuran minyak dan rempah-rempah pedas yang intens. Sementara di Indonesia, kita sangat akrab dengan acar kuning yang menggunakan kunyit dan kemiri, memberikan keseimbangan rasa segar untuk hidangan berminyak seperti sate atau nasi goreng.
Secara kuliner, fungsi utama pickles adalah sebagai elemen pembersih langit-langit. Rasa asam dan asinnya yang kontras sangat efektif untuk memecah kekentalan lemak pada hidangan utama sehingga setiap suapan makanan tetap terasa segar dan tidak membosankan. (Athoya Hanin)
Editor : Ina Herdiyana